Nusantara

Harga Minyak Serai Wangi Melonjak hingga Rp400 Ribu per Kilogram, Petani Dua Koto Pasaman Kembali Bergairah

Ilham alias Uncu, duduk sambil memangku anak saat melakukan penyulingan minyak serai wangi di tempat tinggalnya di Jongkong, Nagari Simpang Tonang Selatan.

‎
‎Pasaman (Dua Koto), desernews.com
‎‎Kabar menggembirakan datang dari kalangan petani serai wangi di Kabupaten Pasaman, khususnya Kecamatan Dua Koto. Setelah sekian lama menghadapi fluktuasi harga yang sempat merosot tajam hingga Rp90 ribu per kilogram, kini harga minyak serai wangi mengalami peningkatan signifikan dan mencapai Rp400 ribu per kilogram.
‎
‎Kenaikan harga tersebut menjadi angin segar bagi petani yang selama ini tetap bertahan mengembangkan komoditas perkebunan serai wangi di tengah ketidakpastian pasar.
‎
‎Membaiknya nilai jual minyak atsiri ini diharapkan dapat kembali meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan masyarakat petani.
‎
‎Salah seorang petani serai wangi, Ilham alias Uncu (35), warga Jongkong, Nagari Simpang Tonang Selatan, Kecamatan Dua Koto, mengungkapkan rasa syukur dan kegembiraannya atas membaiknya harga komoditas tersebut.
‎
‎Saat ditemui wartawan DeserNews.com pekan lalu, ketika sedang melakukan proses penyulingan batang serai wangi untuk menghasilkan minyak atsiri, Ilham menceritakan perjalanan panjang yang telah dilaluinya sebagai petani serai wangi.
‎
‎Menurut Ilham, usaha menghasilkan minyak serai wangi bukanlah pekerjaan mudah. Prosesnya membutuhkan tenaga, waktu, serta biaya operasional yang tidak sedikit.
‎
‎Batang serai wangi terlebih dahulu harus dipanen dengan cara disabit atau diarit dari kebun. Setelah itu, batang-batang tersebut dikumpulkan, diikat, kemudian diangkut menuju tempat penyulingan, baik di rumah maupun di pondok yang berada di sekitar lahan perkebunan.
‎
‎Setelah terkumpul, batang serai wangi dimasukkan ke dalam tempat penyulingan untuk menjalani proses penguapan melalui pemanasan menggunakan kayu bakar.
‎
‎Proses ini membutuhkan persediaan bahan bakar kayu dalam jumlah cukup banyak agar penyulingan dapat berlangsung dengan baik hingga menghasilkan minyak serai wangi.
‎
‎”Untuk mendapatkan minyak serai wangi, prosesnya cukup panjang dan membutuhkan tenaga yang tidak sedikit. Mulai dari memanen, mengangkut batang serai, hingga melakukan penyulingan dengan menggunakan kayu bakar.
‎
‎ Karena itu, kalau harga minyak terlalu murah, tentu kami sebagai petani sangat kesulitan mendapatkan keuntungan,” ungkap Ilham.
‎
‎Ia mengisahkan, sekitar sepuluh tahun lalu, usaha serai wangi sempat menjadi salah satu komoditas perkebunan yang cukup menjanjikan. Pada masa itu, harga minyak serai wangi berkisar Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per kilogram.
‎
‎Tingginya harga tersebut sempat mendorong masyarakat untuk mengembangkan tanaman serai wangi secara lebih luas. Bahkan, sebagian petani rela menebang tanaman sawit dan karet yang sebelumnya menjadi sumber penghasilan mereka, kemudian menggantinya dengan tanaman serai wangi karena dinilai memiliki prospek ekonomi yang lebih baik.
‎
‎Namun, kondisi pasar ternyata tidak berlangsung lama. Harga yang semula menjanjikan hanya bertahan sekitar satu tahun. Setelah itu, harga minyak serai wangi mulai mengalami penurunan secara bertahap, dari Rp300 ribu menjadi Rp250 ribu, kemudian Rp200 ribu, hingga akhirnya berada pada kisaran Rp150 ribu per kilogram selama bertahun-tahun.
‎
‎Puncaknya, harga komoditas tersebut sempat terpuruk hingga Rp90 ribu per kilogram. Kondisi ini membuat sebagian petani kehilangan minat untuk melanjutkan usaha penyulingan karena nilai jual minyak tidak sebanding dengan tenaga, waktu, dan biaya produksi yang dikeluarkan.
‎
‎Akibatnya, sejumlah petani memilih meninggalkan tanaman serai wangi dan mengalihkan pemanfaatan lahan perkebunan mereka ke komoditas lain, seperti kelapa sawit, karet, serta tanaman perkebunan lainnya.
‎
‎Situasi tersebut juga berdampak terhadap berkurangnya luas lahan tanaman serai wangi di sejumlah wilayah Kecamatan Dua Koto. Ironisnya, ketika harga minyak serai wangi kini kembali membaik, sebagian petani yang dahulu beralih komoditas tidak lagi memiliki lahan untuk mengembangkan tanaman tersebut.
‎
‎Berbeda dengan sebagian petani lainnya, Ilham memilih tetap bertahan menggeluti usaha perkebunan dan penyulingan serai wangi meskipun harus melewati masa-masa sulit ketika harga berada pada titik terendah.
‎
‎”Alhamdulillah, sekarang saya merasa lega dan gembira, Bang. Harga minyak serai wangi sudah kembali membaik, bahkan mencapai Rp400 ribu per kilogram. Dulu kami pernah merasakan harga Rp250 ribu, kemudian turun menjadi Rp200 ribu, lalu Rp150 ribu dan bertahan bertahun-tahun. Bahkan, pernah anjlok sampai Rp90 ribu per kilogram,” tuturnya.
‎
‎Bagi Ilham dan petani yang masih bertahan, kenaikan harga tersebut bukan sekadar perubahan angka dalam transaksi perdagangan, melainkan menjadi harapan baru bagi keberlanjutan usaha perkebunan serai wangi di Kecamatan Dua Koto.

Kebun serai wangi milik masyarakat yang belum di sabit tumbuh dengan keadaan subur.

‎Perlu Perhatian terhadap Keberlanjutan Komoditas
‎
‎Membaiknya harga minyak serai wangi merupakan momentum penting untuk kembali mendorong pengembangan komoditas perkebunan unggulan masyarakat. Namun, pengalaman pahit akibat anjloknya harga pada masa lalu hendaknya menjadi bahan evaluasi agar petani tidak hanya bergantung pada fluktuasi pasar.
‎
‎Diperlukan perhatian dan pembinaan dari instansi pertanian serta pihak terkait, terutama dalam penguatan kelembagaan petani, peningkatan kualitas hasil penyulingan, efisiensi biaya produksi, dan perluasan akses pemasaran.
‎
‎Dengan dukungan tersebut, serai wangi diharapkan tidak hanya menjadi komoditas musiman yang menguntungkan ketika harga sedang tinggi, tetapi mampu berkembang menjadi salah satu sumber ekonomi perkebunan masyarakat yang berkelanjutan.
‎
‎Kisah Ilham alias Uncu menjadi gambaran bahwa ketekunan dan kesabaran petani dalam mempertahankan usaha pertanian dapat memberikan harapan baru ketika kondisi pasar kembali berpihak kepada mereka.(H.Eddi Gultom)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close