Makam Datuk di Pantai Labu Disebut Warga Tak Terendam Saat Banjir

Pantai Labu, desernews.com
Sebuah makam yang berada di areal persawahan Dusun II, Desa Tengah, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, hingga kini dianggap keramat oleh sebagian warga setempat.
Makam tersebut berada sekitar 200 meter dari jalan umum Pantai Labu. Untuk mencapainya, warga maupun peziarah harus melewati jalan di tengah areal persawahan milik warga.
Berdasarkan penelusuran di lokasi, terdapat empat makam dengan warna keramik yang relatif sama. Ukurannya berbeda, dengan salah satu makam terlihat lebih panjang dibandingkan tiga makam lainnya yang berada bersebelahan.
Makam yang lebih panjang tersebut berada di bawah bangunan beratap seng dan oleh warga setempat disebut sebagai makam datuk keramat.
“Makam yang panjang ini merupakan makam datuk keramat. Kami juga tidak tahu tiga makam yang di sebelahnya, mungkin keluarga dari datuk,” ujar Abah Fudin, warga setempat, Senin (5/10/2026).
Pria berusia 76 tahun itu mengatakan, warga setempat juga tidak mengetahui secara pasti nama maupun asal-usul sosok yang dimakamkan di tempat tersebut.
“Dulu orang tua di kampung ini hanya menyebut makam datuk keramat,” katanya.
Menurut Abah Fudin, sebutan keramat tersebut berkembang dari cerita masyarakat yang menyebut makam tetap dalam kondisi baik ketika sejumlah kejadian alam melanda wilayah tersebut.
Herpani, warga Pantai Labu lainnya, juga mengaku pernah mendengar cerita serupa. Ia mengatakan, ketika terjadi banjir dan angin kencang, rumah warga di sekitar lokasi terdampak, sementara makam tersebut disebut tidak mengalami kerusakan.
“Sementara rumah warga sudah terendam air separuh dan sebagian roboh disapu angin kencang, tapi makam ini disebut tidak tergenang air,” ujar Herpani.
Namun, cerita mengenai makam tersebut belum disertai keterangan tertulis atau catatan sejarah yang dapat memastikan identitas dan asal-usul sosok yang dimakamkan.
Tokoh masyarakat Desa Tengah, Abdullah, juga mengaku belum mengetahui secara pasti sejarah makam tersebut. Meski demikian, menurutnya, makam itu cukup dikenal oleh masyarakat dan pernah didatangi peziarah dari luar daerah, termasuk dari Pekanbaru.
“Banyak juga yang datang berziarah. Ada yang kembali lagi setelah nazarnya terkabul. Bahkan ada peziarah yang ikut merenovasi makam,” kata Abdullah.
Hingga berita ini ditulis, Kepala Desa Tengah, Irwansyah, belum berhasil dikonfirmasi untuk memperoleh keterangan mengenai sejarah maupun status makam tersebut.
Saat wartawan mendatangi kantor desa, salah seorang perangkat desa mengatakan kepala desa sedang berada di luar kantor.
“Pak Kades lagi keluar, Pak,” ujarnya.(01/DN)




