Dakwah Kultural: Menyampaikan Islam Tanpa Kehilangan Prinsip
Oleh: DR. H. Aslam Nur. MA, disampaikan pada pengajian rutin Ahad Subuh, Minggu, 16 Juli 2026, di Mesjid Taqwa Muhammadiyah Banda Aceh

Banda Aceh, desernews.com
Tema yang kita bahas pada kesempatan ini adalah Dakwah Kultural. Tema ini sangat penting karena berkaitan dengan cara menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat yang memiliki latar belakang budaya, tradisi, dan kebiasaan yang beragam. kata Ustazd DR. H. Aslam Nur MA dalam pengajian di Mesjid Taqwa Muhammadiyah Banda Aceh, Minggu 16 Juli 2026.
Lahirnya Konsep Dakwah Kultural Muhammadiyah
Konsep Dakwah Kultural di lingkungan Muhammadiyah mulai dirumuskan dalam Tanwir Muhammadiyah tahun 2002 di Bali, kemudian disahkan sebagai kebijakan resmi pada Tanwir Muhammadiyah tahun 2003 di Makassar.
Lahirnya konsep ini bukan tanpa alasan. Pada masa itu muncul anggapan di sebagian masyarakat bahwa Muhammadiyah terlalu kaku dalam menyikapi budaya, bahkan dianggap menjauh dari seni dan tradisi masyarakat. Di sisi lain, dunia sedang memasuki era globalisasi yang sangat kuat.
Globalisasi bukan sekadar mempercepat arus informasi dan teknologi, tetapi juga membawa penyebaran budaya secara masif. Dunia seolah menjadi satu ruang besar yang saling memengaruhi. Nilai, gaya hidup, hiburan, cara berpakaian, hingga pola pikir dengan cepat menyebar melintasi batas negara.
Dalam situasi seperti itulah Muhammadiyah merasa perlu merumuskan strategi dakwah yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan kemurnian ajaran Islam.
Artinya, dakwah tidak boleh hanya benar secara materi, tetapi juga harus bijaksana dalam cara penyampaiannya.
Allah SWT berfirman: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan berdialoglah dengan cara yang paling baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Ayat ini menjadi landasan bahwa metode dakwah harus dilakukan dengan hikmah, kebijaksanaan, dan memperhatikan kondisi masyarakat yang didakwahi.
Apa yang Dimaksud dengan Dakwah Kultural?
Dakwah kultural adalah usaha menyampaikan ajaran Islam dengan memahami realitas sosial dan budaya masyarakat, kemudian memanfaatkan unsur-unsur budaya yang tidak bertentangan dengan syariat sebagai sarana dakwah.
Dengan kata lain, Muhammadiyah tidak memusuhi budaya. Yang ditolak bukan budayanya, tetapi unsur-unsur budaya yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Inilah yang menjadi ciri Muhammadiyah sejak awal berdirinya, yaitu melakukan tajdid (pembaruan) melalui dua langkah sekaligus:
1. Purifikasi, yaitu memurnikan akidah dan ibadah dari syirik, tahayul, bid’ah, dan khurafat.
2. Dinamisasi, yaitu mengembangkan kehidupan umat melalui ilmu pengetahuan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan kebudayaan yang selaras dengan syariat Islam.
Karena itu, dakwah kultural sama sekali bukan berarti mengakomodasi TBC (Tahayul, Bid’ah, dan Khurafat).
Sebaliknya, dakwah kultural berfungsi sebagai filter. Budaya yang baik dipelihara, budaya yang bertentangan dengan syariat diperbaiki, dan budaya yang mengandung kemusyrikan harus ditinggalkan.
Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW: “Barang siapa membuat perkara baru dalam urusan (agama) kami yang bukan berasal darinya, maka perkara itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi prinsip bahwa urusan ibadah tidak boleh ditambah atau dikurangi menurut kehendak manusia.
Budaya Tidak Hanya Berarti Seni.
Sering kali masyarakat memahami budaya hanya sebatas tari, musik, pakaian adat, atau pertunjukan seni. Padahal makna budaya jauh lebih luas.
Budaya adalah seluruh hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. Cara berpakaian, cara berkomunikasi, sistem pendidikan, tradisi bermusyawarah, arsitektur rumah, teknologi, bahasa, hingga kebiasaan hidup sehari-hari semuanya termasuk budaya.
Karena itu, Islam hadir bukan untuk menghapus budaya secara keseluruhan, melainkan membimbing budaya agar sesuai dengan nilai-nilai tauhid.
Contohnya:
-Memanfaatkan bahasa daerah sebagai media dakwah.
-Menggunakan kesenian yang tidak melanggar syariat untuk menyampaikan pesan Islam.
-Memanfaatkan teknologi digital dan media sosial sebagai sarana dakwah.
-Mengembangkan tradisi gotong royong, kepedulian sosial, dan musyawarah karena semuanya sejalan dengan nilai Islam.
Dengan demikian, budaya menjadi kendaraan dakwah, bukan tujuan dakwah.
Perbedaan Agama dan Budaya
Muhammadiyah memberikan batas yang sangat jelas antara agama dan budaya agar keduanya tidak tercampur.
Agama berasal dari wahyu Allah SWT, sedangkan budaya berasal dari hasil kreativitas manusia.
Suatu ajaran dapat disebut sebagai agama apabila memiliki beberapa unsur pokok:
-Memiliki keyakinan terhadap sesuatu yang bersifat supranatural, yaitu keimanan kepada Allah SWT dan perkara-perkara gaib.
-Memiliki tata cara ibadah atau ritual yang telah ditentukan.
-Memiliki aturan hidup yang mengikat para pemeluknya.
Sementara budaya merupakan hasil pemikiran dan pengalaman manusia yang dapat berubah mengikuti perkembangan zaman.
Karena itu berlaku kaidah:
-Agama bersifat tetap dalam prinsip-prinsipnya.
-Budaya bersifat dinamis dan dapat berubah selama tidak bertentangan dengan syariat.
Dalam kaidah fikih dikenal prinsip:
-Al-‘adah muhakkamah, yaitu adat atau kebiasaan dapat dijadikan pertimbangan hukum selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Kaidah ini menunjukkan bahwa Islam menghargai budaya, tetapi tetap menjadikan wahyu sebagai standar tertinggi.
Dakwah Kultural di Era Digital
Di zaman sekarang, budaya tidak hanya lahir dari lingkungan sekitar, tetapi juga dibentuk oleh media sosial, film, musik, game, dan teknologi digital.
Karena itu dakwah kultural hari ini tidak cukup dilakukan di mimbar masjid saja. Dakwah harus hadir di ruang-ruang digital dengan bahasa yang santun, konten yang menarik, dan pesan yang mencerahkan.
Generasi muda harus diajak mendekati Islam melalui pendekatan yang mereka pahami tanpa mengurangi isi ajaran Islam sedikit pun.
Prinsipnya adalah cara boleh berubah, tetapi nilai tidak boleh berubah.
Dakwah kultural bukanlah upaya mencampurkan agama dengan budaya, apalagi menghalalkan semua tradisi masyarakat. Dakwah kultural adalah strategi menyampaikan Islam dengan hikmah, memahami kondisi masyarakat, memanfaatkan budaya yang baik sebagai sarana dakwah, sekaligus menyaring setiap unsur budaya agar tetap sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Muhammadiyah sejak awal berkomitmen menghadirkan Islam yang murni sekaligus berkemajuan. Oleh karena itu, kita dituntut mampu berdialog dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas sebagai umat Islam.
Semoga Allah SWT memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, hikmah dalam berdakwah, serta kemampuan menjaga kemurnian agama sekaligus menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Aamiin ya Rabbal ‘alamiim (T. Jamaluddin)




