Aceh Darussalam

Islam Larang Berbuat Zalim

H. Mubashshirullah, Lc, M.Ag,

Banda Aceh, desernews.com
Berbuat zalim merupakan salah satu tindakan yang dilarang Islam. Secara sederhana, zalim diartikan sebagai tindakan tidak adil, sewenang-wenang, kejam, atau menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Perbuatan ini tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga berdampak buruk pada diri pelaku sendiri.

Ketua Guru Ngaji Center, H. Mubashshirullah, Lc, M.Ag, menjelaskan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid Nurul Jadid, Lampeuneuen, Kecamatan Darul Imarah, Aceh 17 Juli 2026 bertepatan 3 Safar 1448 Hijriah.

Allah Swt berfirman: “Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang zhalim menggigit dua tangannya (menyesali perbuatannya), seraya berkata: ‘Wahai, sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama rasul. Wahai, celaka aku! Sekiranya dulu aku tidak menjadikan si fulan sebagai teman setia(ku). Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur’an) setelah (peringatan itu) datang kepadaku. Dan setan itu bagai manusia adalah pengkhianat.'” (QS. Al-Furqan: 27-29)

Menurut H. Mubashshirullah, tindakan zalim secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kategori, pertama, zalim pada diri sendiri, dilakukan dengan cara mengabaikan perintah Allah, tenggelam dalam dosa dan kemaksiatan, mengabaikan kesehatan fisik dan mental, hingga menghamba kepada sesama manusia.

Kedua, zalim terhadap orang lain, meliputi tindakan menindas, menyakiti secara fisik maupun psikis, melanggar hak-hak orang lain, hingga merampas harta yang bukan miliknya.

Merujuk pada Surah Al-Furqan ayat 27-29, H. Mubashshirullah menekankan ada dua penyesalan yang akan dialami oleh para pelaku kezaliman di akhirat kelak, pertama, menyesal karena tidak mengikuti jalan Rasul.

“Para pelaku kezaliman akan sangat menyesal karena selama hidup di dunia mereka mengabaikan tuntunan dan sunah yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw. Mereka memilih jalan hidupnya sendiri yang dipenuhi hawa nafsu,” ungkapnya.

Kedua, menyesal karena salah memilih teman dekat (sahabat karib). Penyesalan yang tidak kalah berat adalah salah dalam memilih lingkaran pertemanan. Teman yang buruk di dunia kerap menjadi jembatan yang menjerumuskan seseorang ke dalam kemaksiatan dan menjauhkannya dari mengingat Allah.

H. Mubashshirullah mengingatkan, dua poin penyesalan tersebut sangat relevan dengan kondisi zaman sekarang. Di tengah situasi hidup yang semakin menantang dan sulit, menemukan sosok sahabat sejati yang saling mengingatkan dalam kebaikan menjadi hal yang sangat mewah sekaligus krusial.

“Oleh karenanya, berupaya lah terus konsisten dalam kebaikan dan berusahalah menemukan circle-circle yang baik, yang dengannya akan menguatkan kita menghadapi berbagai macam tantangan dan rintangan zaman,” pesan anggota IKAT Aceh ini.(T. Jamaluddin)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close