Umat Islam Harus Lakukan Muhasabah Diri dan Keluarga

Aceh Besar, desernews.com
Umat Islam harus senantiasa melakukan muhasabah diri dan keluarga sebagai bekal menghadapi kehidupan akhirat. Ini hal penting dalam kehidupan seorang muslim untuk meningkatkan keimanan, amal saleh, dan taubat.
Pimpinan Dayah Darul Fikri Al Waliyah Kota Banda Aceh, Tgk Wahyu Mimbar MAg menyampaikan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid Jami’ Babussalam Kemukiman Lam Ujong, Kecamatan Krueng Barona Jaya, 10 Juli 2026/25 Muharram 1448 Hijriah.
Dalam khutbahnya, Ustaz Wahyu mengingatkan bahwa manusia sering terlena oleh urusan dunia, padahal kehidupan yang hakiki adalah kehidupan di akhirat. Oleh karena itu, setiap Muslim dituntut mempersiapkan bekal terbaik sejak di dunia.
“Bekal utama yang harus kita siapkan adalah iman dan takwa. Allah Swt telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa sebaik-baik bekal adalah takwa,” ujarnya, merujuk pada QS Al-Baqarah ayat 197.
Allah Swt berfirman: “Berbekallah kalian, dan sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah takwa.” (QS Al-Baqarah : 197).
Ia menjelaskan, para mufasir seperti Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut sebagai perintah menyiapkan bekal, bukan hanya secara fisik, tetapi juga spiritual.
Takwa, lanjutnya, menjadi inti keselamatan manusia karena mencakup ketaatan kepada Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Selain itu, Ustaz Wahyu juga menekankan pentingnya memperbanyak amal saleh. Ia mengutip Al-Quran Surat Az-Zalzalah ayat 7–8 yang menegaskan setiap amal, sekecil apa pun, akan mendapatkan balasan dari Allah Swt.
Allah Swt berfirman: “Barang siapa yang melakukan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasannya); dan barang siapa yang melakukan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasannya).” (QS Az-Zalzalah: 7–8)
“Tidak ada amal yang sia-sia. Sekecil apa pun kebaikan yang kita lakukan akan diperlihatkan di hari kiamat,” katanya, seraya mengutip penjelasan Imam Ath-Thabari tentang keadilan Allah yang sempurna.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan jamaah agar tidak menunda taubat. Menurutnya, setiap manusia pasti pernah berbuat salah, namun Allah membuka pintu ampunan seluas-luasnya bagi hamba-Nya yang ingin bertaubat.
Rasulullah saw, kata dia, telah bersabda bahwa setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.
Ia mengutip pandangan Imam An-Nawawi yang menjelaskan, taubat harus disertai penyesalan, meninggalkan dosa, dan bertekad untuk tidak mengulanginya.
Lebih lanjut, Ustaz Wahyu menegaskan, muhasabah tidak hanya dilakukan secara pribadi, tetapi juga harus mencakup keluarga.
Ia merujuk pada QS At-Tahrim ayat 6 yang memerintahkan agar setiap Muslim menjaga diri dan keluarganya dari api neraka.
“Mendidik keluarga tanggung jawab kita bersama. Ali bin Abi Thalib menafsirkan ayat tersebut dengan perintah mengajarkan kebaikan kepada keluarga,” ujarnya.
Menurutnya, dalam kehidupan saat ini, muhasabah keluarga dapat diwujudkan melalui pembiasaan ibadah bersama, pendidikan agama yang baik, dan keteladanan orang tua dalam kehidupan sehari-hari.
Di akhir khutbahnya, Ustaz Wahyu mengajak umat Islam untuk menjadikan muhasabah sebagai kebiasaan harian, bukan haya renungan sesaat.
“Hidup ini hanya sementara. Maka siapkan bekal terbaik: iman, amal saleh, dan taubat, agar kita selamat di dunia dan akhirat,” pungkasnya.(T. Jamaluddin)




