Nusantara

Harapan Masyarakat Dua Koto Menggema, MAS Andilan yang Berdiri Sejak 1941 Didorong Menjadi Madrasah Negeri

Para guru,TU dan Kepala Sekolah MAS Andilan foto bersama wartawan desernews.com didepan kantor madrasah.


‎Pasaman, desernews.com
‎‎Besar harapan masyarakat Kecamatan Dua Koto, Kabupaten Pasaman, serta pihak sekolah agar Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Andilan yang berada di Kampung Pote, Nagari Simpang Tonang Selatan, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat dapat segera berubah status menjadi madrasah negeri.

‎Sekolah yang berdiri sejak tahun 1941 atau sebelum masa kemerdekaan Indonesia itu dinilai memiliki sejarah panjang dalam dunia pendidikan dan layak mendapat perhatian pemerintah.

‎Harapan tersebut disampaikan Kepala Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Andilan, Wildan, didampingi guru pendidik Darwis Harahap kepada wartawan desernews.com, Eddi Gultom, Rabu (20/5/2026).

‎Wildan menjelaskan, saat ini jumlah siswa di MAS Andilan dari kelas I hingga kelas III hanya sebanyak 36 orang. Sementara tenaga pendidik dan tata usaha mencapai 19 orang.

‎“Para siswa di sekolah ini tidak dipungut biaya apa pun sesuai program Pemerintah Kabupaten Pasaman tentang pendidikan gratis untuk SD, SMP dan SLTA sederajat. ‎Namun dana yang diterima sekolah masih belum mencukupi untuk membayar honor guru,” ungkap Wildan.

‎Ia mengatakan, dana bantuan yang diterima sekolah berdasarkan jumlah siswa sangat kecil bila dibandingkan kebutuhan operasional sekolah.

‎“Coba bayangkan, dari 36 siswa dikali Rp38 ribu per siswa tentu belum bisa mencukupi pembayaran honor guru. Sementara melakukan kutipan kepada siswa tidak diperbolehkan. Bagaimana sekolah mau maju,” katanya.

‎Menurut Wildan, kondisi sekolah swasta saat ini memang cukup berat. Dahulu sekolah swasta tidak harus berada di bawah yayasan, namun sekarang harus berbadan yayasan agar bisa memperoleh bantuan pembangunan dari pemerintah.

Gedung lokal belajar siswa yang dibangun dari bantuan pemerintah yang kondisinya sangat kokoh dan megah.

‎“Masalahnya yayasan saat ini juga sulit mencari donatur. Kalau di kota-kota biasanya yayasan punya donatur tetap. Sedangkan di daerah seperti kami sangat sulit mencari sumber pendanaan,” ujarnya.

‎Ia juga mengakui bahwa masyarakat saat ini cenderung lebih memilih sekolah negeri dibanding sekolah swasta.

‎“Masyarakat sekarang lebih mendambakan sekolah negeri. Kalau sudah negeri mereka merasa puas menyekolahkan anaknya. Kalau statusnya masih swasta, kesannya dianggap di bawah sekolah negeri, padahal belum tentu kualitasnya demikian,” tutur Wildan.

‎Karena itulah, perjuangan untuk menegerikan MAS Andilan terus dilakukan sejak tahun 2009. Saat itu sekolah masih berada di tepi jalan kabupaten di Andilan dan bergabung dengan MTs.

‎Namun rencana tersebut terkendala karena belum adanya tanah tapak untuk pembangunan sekolah. ‎Melihat tingginya harapan masyarakat, pengurus yayasan kemudian berupaya mencari lokasi baru di Kampung Pote, yang kini menjadi lokasi bangunan sekolah.

‎Bahkan, antusiasme masyarakat sangat tinggi hingga enam orang warga setempat bersedia mewakafkan tanah mereka untuk pembangunan sekolah tersebut.

‎“Semua masyarakat saat itu sangat menginginkan MAS Andilan menjadi sekolah negeri,” jelas Wildan.

‎Perjuangan itu kemudian mendapat respon positif dari pemerintah. Pada tahun 2013, pemerintah pusat memberikan bantuan pembangunan sarana dan prasarana untuk persiapan sekolah negeri.

‎Dari bantuan tersebut dibangun berbagai fasilitas pendidikan yang cukup lengkap dan representatif, mulai dari ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang tata usaha, ruang perpustakaan dan ruang kepala perpustakaan, ruang pertemuan, WC guru dan siswa hingga 10 ruang lokal belajar yang berdiri kokoh dan megah dengan standar bangunan pendidikan.

‎Saat itu pemerintah memperkirakan penerimaan siswa baru akan berkembang pesat apabila status sekolah berubah menjadi negeri, bahkan dipersiapkan tiga lokal setiap tingkatan ditambah satu lokal unggulan.

Gedung lokal belajar siswa.

‎“Dulu di Kanwil dipersiapkan tiga lokal untuk setiap tingkatan, artinya kelas satu tiga lokal, kelas dua tiga lokal dan kelas tiga tiga lokal, ditambah satu lokal unggulan,” terang Wildan.

‎Namun hingga kini, harapan masyarakat dan pihak sekolah tersebut belum juga terealisasi sepenuhnya. Meski demikian, pihak sekolah tetap terus berjuang melengkapi seluruh persyaratan administrasi yang dibutuhkan.

‎Wildan menjelaskan, salah satu kendala utama saat ini adalah persoalan status sertifikat tanah. Pada pengajuan awal, sertifikat tanah dibuat dalam bentuk sertifikat wakaf, padahal untuk proses pembangunan sekolah negeri dibutuhkan sertifikat hibah.

‎“Karena itu sekarang sedang diurus di BPN Pasaman untuk perubahan sertifikat wakaf menjadi sertifikat hibah. Pengajuannya sudah kami sampaikan sekitar satu minggu lalu,” katanya.

‎Menurutnya, pihak BPN Pasaman saat ini masih mempelajari mekanisme serta payung hukum perubahan status sertifikat tersebut.

‎“Pegawai BPN meminta waktu sekitar dua minggu untuk mencari skema dan dasar hukumnya. Setelah itu nanti akan dikabari tahu hasilnya,” ujar Wildan.

‎Untuk itu masyarakat Kecamatan Dua Koto, Kabupaten Pasaman, berharap besar kepada pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia agar Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Andilan dapat ditingkatkan statusnya menjadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN).

Pintu gerbang masuk ke sekolah MAS Andilan.

Harapan ini bukanlah keinginan baru, melainkan dambaan yang sudah lama hidup di tengah masyarakat demi kemajuan pendidikan generasi muda di daerah tersebut.

‎Tokoh masyarakat, wali murid, para alumni, serta masyarakat Nagari Simpang Tonang Selatan menilai MAS Andilan memiliki sejarah panjang dan jasa besar dalam mencerdaskan anak bangsa.

‎Madrasah yang berdiri sejak tahun 1941, bahkan sebelum Indonesia merdeka, dinilai telah melahirkan banyak tokoh agama, pendidik, dan generasi yang sukses di berbagai bidang.

‎Masyarakat berharap pemerintah pusat melalui Kementerian Agama RI dapat memberikan perhatian serius terhadap keberadaan MAS Andilan yang selama puluhan tahun tetap bertahan dan terus berjuang mendidik anak-anak di wilayah pelosok Dua Koto.

‎Dengan perubahan status menjadi MAN, masyarakat yakin kualitas pendidikan, sarana prasarana, serta kesejahteraan tenaga pendidik akan semakin meningkat.

‎“Sudah sangat lama masyarakat menginginkan MAS Andilan menjadi MAN. Kami berharap pemerintah mendengar aspirasi ini, karena madrasah ini memiliki sejarah besar dan sangat berjasa bagi pendidikan masyarakat Dua Koto,” ungkap salah seorang tokoh masyarakat.

‎Selain itu, keberadaan MAN nantinya diyakini akan membuka peluang lebih luas bagi generasi muda untuk memperoleh pendidikan agama dan umum yang lebih berkualitas tanpa harus jauh keluar daerah.

‎Hal ini juga diharapkan dapat meningkatkan semangat belajar para siswa dan menjadi kebanggaan masyarakat Kecamatan Dua Koto.
‎Masyarakat pun berharap seluruh pihak, baik pemerintah daerah, tokoh masyarakat, alumni, maupun Kementerian Agama dapat bersinergi mewujudkan cita-cita lama tersebut demi kemajuan pendidikan Islam di Kabupaten Pasaman.(H.Eddi Gultom)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close