Aceh Darussalam

Menjaga Kesehatan Jiwa Ditengah Kehidupan Modern, Keindahan Sabar dan Syukur Kunci Kesehatan Jiwa

Pengajian Rutin Sabtu Subuh di Masjid Tgk. H. Jaafar Hanafiah, Universitas Muhammadiyah Aceh, (24/10/2026), oleh: Ust. dr. Al-Bukhari

Ust. dr. Al-Bukhari

Banda Aceh, desernews.com
Kesehatan merupakan nikmat yang sangat berharga. Namun, ketika berbicara tentang kesehatan, kita sering kali hanya memperhatikan kesehatan fisik, padahal kesehatan jiwa juga merupakan bagian penting dari kehidupan manusia.

Ditengah kehidupan modern yang serba cepat, tuntutan pekerjaan, persoalan keluarga, tekanan ekonomi, dan derasnya arus informasi, banyak orang menghadapi kecemasan, kesedihan berkepanjangan, dan tekanan psikologis.

Kecemasan pada dasarnya merupakan respons manusia ketika menghadapi ancaman atau ketidakpastian. Namun, apabila kecemasan berlangsung berlebihan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian. Demikian pula depresi, yang bukan sekadar kesedihan biasa, melainkan kondisi kesehatan mental yang dapat memengaruhi suasana hati, pikiran, energi, dan kemampuan seseorang menjalani kehidupan.

Kita perlu memahami bahwa orang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa bukan berarti lemah iman. Seseorang dapat memiliki iman yang kuat, rajin beribadah, dan tetap mengalami persoalan kesehatan mental. Karena itu, kita tidak boleh menghakimi orang yang sedang mengalami kesulitan jiwa, apalagi menuduhnya kurang bersyukur atau kurang dekat dengan Allah.

Islam mengajarkan kita untuk memelihara hati sekaligus mengambil langkah nyata dalam menghadapi persoalan kehidupan. Dalam konteks inilah, sabar dan syukur menjadi dua nilai penting yang dapat membantu kita menjalani kehidupan dengan lebih tenang, tangguh, dan bermakna.

Para Nabi Juga Mengalami Kesedihan dan Ketakutan

Al-Qur’an memberikan gambaran yang sangat manusiawi tentang kehidupan para nabi. Mereka adalah manusia pilihan Allah, tetapi bukan berarti tidak pernah mengalami kesedihan, ketakutan, atau tekanan batin.

Perhatikan kisah Nabi Ya’qub AS ketika kehilangan putranya, Nabi Yusuf AS. Kesedihan beliau begitu mendalam. Al-Qur’an dalam Surah Yusuf ayat 84 menggambarkan bahwa kedua mata Nabi Ya’qub memutih karena kesedihan, sementara beliau menahan perasaannya.

Namun, pada ayat 86, Nabi Ya’qub berkata bahwa beliau hanya mengadukan kesusahan dan kesedihannya kepada Allah.

Ini memberikan pelajaran penting: beriman bukan berarti tidak boleh bersedih. Kesedihan adalah bagian dari kemanusiaan. Yang perlu kita pelajari ialah bagaimana menghadapi kesedihan tanpa kehilangan harapan kepada Allah.

Mengadukan kesedihan kepada Allah bukan berarti kita tidak boleh bercerita kepada orang lain, meminta nasihat, atau mencari pertolongan. Kita dapat berdoa sekaligus berbicara dengan keluarga, sahabat yang dapat dipercaya, konselor, atau tenaga kesehatan.

Demikian pula Nabi Musa AS. Ketika menghadapi ancaman setelah peristiwa pembunuhan yang tidak disengaja, beliau merasa takut dan memohon perlindungan kepada Allah. Kisah ini terdapat dalam Surah Al-Qasas ayat 15–21. Ketakutan tersebut mendorong beliau untuk mencari keselamatan, bukan sekadar berdiam diri.

Dari kedua kisah ini, kita memahami bahwa manusia dapat mengalami tekanan batin, bahkan ketika memiliki hubungan yang kuat dengan Allah. Keteladanan para nabi bukan terletak pada ketiadaan emosi, melainkan pada bagaimana mereka merespons keadaan dengan doa, kesadaran, dan tindakan yang tepat.

Sabar: Kekuatan Menghadapi Kenyataan dan Mencari Jalan Keluar

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 153: “Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Ayat ini mengajarkan bahwa sabar merupakan salah satu kekuatan yang dapat menolong manusia ketika menghadapi kesulitan.

Akan tetapi, sabar bukan berarti pasif, menyerah, membiarkan kezaliman, atau menolak mencari pertolongan. Sabar adalah kemampuan untuk tetap berada pada jalan yang benar ketika menghadapi keadaan yang tidak mudah.

Ketika menghadapi masalah ekonomi, sabar berarti tidak mengambil jalan pintas yang haram, sembari tetap berusaha mencari rezeki yang halal. Ketika menghadapi konflik keluarga, sabar berarti mengendalikan emosi, berkomunikasi dengan baik, dan mencari penyelesaian yang adil. Ketika mengalami tekanan psikologis, sabar berarti tidak berputus asa, bersedia menjalani proses pemulihan, dan mengambil langkah yang diperlukan.

Sabar juga mengajarkan kita agar tidak terburu-buru mengambil keputusan ketika emosi sedang memuncak. Kita perlu memberi ruang kepada diri sendiri untuk menenangkan pikiran, memahami masalah, dan menentukan tindakan yang paling tepat.

Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang berusaha bersabar, Allah akan memberinya kesabaran. Tidak ada pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Dengan demikian, sabar bukan sekadar menahan penderitaan, melainkan membangun daya tahan diri agar kita mampu menghadapi kenyataan tanpa kehilangan arah.

Namun, kita juga harus memahami bahwa kesabaran tidak selalu membuat masalah segera hilang. Ada persoalan yang memerlukan waktu panjang, dukungan orang lain, perubahan keadaan, bahkan bantuan profesional. Karena itu, jangan menyalahkan diri sendiri apabila rasa sedih atau cemas belum juga mereda.

Syukur: Belajar Melihat Nikmat di Tengah Keterbatasan

Selain sabar, Islam mengajarkan kita untuk bersyukur. Allah SWT berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7, yang artinya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku sangat berat.”

Syukur bukan hanya mengucapkan alhamdulillah. Syukur mencakup kesadaran hati terhadap nikmat Allah, pengakuan melalui lisan, dan penggunaan nikmat tersebut untuk kebaikan.

Salah satu persoalan manusia modern ialah kecenderungan membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Media sosial membuat kita terus-menerus melihat keberhasilan, kekayaan, penampilan, perjalanan, dan pencapaian orang lain. Apa yang ditampilkan sering kali hanya bagian terbaik dari kehidupan mereka, bukan keseluruhan kenyataan.

Akibatnya, sebagian orang merasa kehidupannya kurang berharga karena belum memiliki apa yang dimiliki orang lain. Kita sibuk memikirkan apa yang belum didapatkan, sampai lupa menghargai apa yang sudah Allah anugerahkan.

Padahal, setiap orang memiliki perjalanan hidup, kemampuan, kesempatan, dan ujian yang berbeda. Apa yang terlihat indah pada kehidupan orang lain belum tentu menggambarkan seluruh keadaan mereka.

Syukur membantu kita mengubah sudut pandang. Kita tetap boleh bercita-cita lebih tinggi, meningkatkan penghasilan, menuntut ilmu, dan memperbaiki kualitas hidup. Namun, semua itu dilakukan tanpa merendahkan diri sendiri dan tanpa menganggap bahwa kehidupan kita tidak berarti hanya karena belum mencapai apa yang dicapai orang lain.

Rasulullah SAW mengajarkan agar kita melihat orang yang berada di bawah kita dalam urusan dunia, bukan semata-mata orang yang berada di atas kita. Dengan demikian, kita tidak mudah meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Bukan berarti kita dilarang belajar dari orang yang lebih berhasil. Kita justru boleh meneladani prestasi dan kerja keras mereka. Akan tetapi, jangan sampai perbandingan tersebut melahirkan iri hati, rasa rendah diri, dan ketidakpuasan yang terus-menerus.

Mari kita belajar mensyukuri hal-hal sederhana: masih diberi kesempatan bangun pada pagi hari, dapat melaksanakan salat, memiliki keluarga atau sahabat yang peduli, memperoleh makanan, serta mempunyai kesempatan untuk memperbaiki diri.

Nikmat yang kita syukuri bukan berarti semua masalah telah selesai. Syukur justru membantu kita menyadari bahwa di tengah persoalan yang belum selesai, masih ada hal-hal berharga yang patut dijaga.

Sabar dan Syukur Harus Berjalan Bersama Ikhtiar

Sabar dan syukur bukan dua sikap yang saling terpisah. Keduanya saling melengkapi dalam menghadapi kehidupan.

Ketika memperoleh nikmat, kita bersyukur dan menggunakannya untuk kebaikan. Ketika menghadapi kesulitan, kita bersabar, mengevaluasi keadaan, dan berusaha mencari jalan keluar.

Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Hadis tersebut bukan berarti semua kejadian menyenangkan atau menyakitkan harus kita sukai. Musibah tetap dapat menimbulkan kesedihan dan kehilangan. Namun, seorang mukmin berusaha menyikapinya dengan cara yang benar: bersyukur ketika mendapatkan kebaikan dan bersabar ketika menghadapi kesulitan.

Dalam menjaga kesehatan jiwa, nilai-nilai ini dapat diterapkan melalui beberapa langkah sederhana.

Pertama, memperkuat hubungan dengan Allah melalui salat, doa, membaca Al-Qur’an, dan mengingat-Nya. Ibadah dapat menjadi sumber ketenangan dan kekuatan batin.

Kedua, belajar mengenali dan mengelola emosi. Ketika cemas atau marah, jangan langsung mengambil keputusan. Berhentilah sejenak, atur napas, identifikasi persoalan, dan pikirkan langkah yang realistis.

Ketiga, menjaga pola hidup sehat. Tidur yang cukup, aktivitas fisik, makanan bergizi, dan hubungan sosial yang baik merupakan bagian dari ikhtiar memelihara kesehatan jiwa.

Keempat, membatasi kebiasaan membandingkan diri melalui media sosial. Gunakan teknologi untuk belajar dan menjalin silaturahmi, bukan untuk terus-menerus mengukur harga diri berdasarkan pencapaian orang lain.

Kelima, jangan ragu mencari bantuan ketika diperlukan. Apabila kecemasan atau kesedihan berlangsung terus-menerus, mengganggu pekerjaan, ibadah, hubungan keluarga, atau aktivitas sehari-hari, berkonsultasilah dengan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan yang kompeten.

Mencari pertolongan bukan tanda kelemahan iman. Itu merupakan bagian dari ikhtiar menjaga amanah kehidupan dan kesehatan yang Allah berikan.

Kita tidak boleh mengatakan kepada orang yang mengalami depresi, “Kamu kurang sabar,” atau, “Kamu kurang bersyukur.” Kalimat seperti itu dapat menambah beban mereka. Sebaliknya, dengarkan dengan empati, temani mereka, bantu mendapatkan pertolongan, dan doakan agar Allah memberikan kekuatan serta kesembuhan.

Penutup: Menata Hati, Menjaga Harapan

Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan. Ada saatnya kita mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi ada pula saatnya kita harus menerima kenyataan yang tidak mudah.

Kita mungkin memiliki rencana, tetapi hasilnya berbeda. Kita mungkin telah berusaha, tetapi keberhasilan belum datang. Kita mungkin melihat orang lain melangkah lebih cepat, sementara kita masih berjuang menyelesaikan persoalan sendiri.

Dalam keadaan seperti itu, jangan kehilangan harapan. Sabar mengajarkan kita untuk tetap teguh menghadapi kesulitan. Syukur mengajarkan kita untuk tetap melihat nikmat di tengah keterbatasan. Ikhtiar menuntun kita mengambil langkah nyata untuk memperbaiki keadaan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28 bahwa hati menjadi tenteram dengan mengingat Allah.

Ketenteraman bukan berarti hidup tanpa masalah, tidak pernah menangis, atau tidak pernah merasa cemas. Ketenteraman adalah kemampuan untuk terus mencari arah dan harapan, sekalipun kita sedang melewati masa yang berat.

Marilah kita membangun kehidupan yang seimbang: menguatkan iman, menjaga kesehatan, merawat hubungan dengan sesama, dan berani mencari pertolongan ketika menghadapi kesulitan.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang sabar ketika diuji, bersyukur ketika diberi nikmat, bijaksana dalam mengambil keputusan, dan saling menguatkan dalam menghadapi persoalan kehidupan.

Semoga Allah menjaga kesehatan jiwa dan raga kita, memberikan ketenteraman hati, serta membimbing kita menjalani kehidupan dengan iman, harapan, dan amal saleh. (T. Jamaluddin)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close