Nasional

Rektor ITK Belum Juga Dipecat Soal Dugaan Rasis, Politikus Golkar: Sekuat Itukah Backing Politiknya?

Rektor Institut Teknologi Kalimantan Budi Santoso Purwokartiko.-itk.ac.id-

Jakarta, desernews.com
Kader Partai Golkar Andi Sinulingga mengatakan kok kelihatannya susah sekali mecat rektor ITK itu perihal menanggapi soal dugaan rasis Budi Santosa Purwokartiko.

Andi Sinulingga menyampaikan hal tersebut melalui unggahan pada akun media sosial Twitter pribadinya baru-baru ini yang bernama @AndiSinulingga.

Kader Golkar ini diketahui memang aktif dalam menggunakan platform tersebut untuk menyampaikan pendapat-pendapat pribadinya.

Kali ini Andi Sinulingga membalas memberikan opini tentang dugaan unggahan rasis yang dilakukan oleh rektor Institut Teknologi Kalimantan Budi Santosa.

Andi Sinulingga merasa heran kenapa Budi Santosa tidak dipecat dari rektor ITK dan siapa tokoh kuat di balik peranan sosok tersebut.

“Kok kelihatannya susah sekali mecat rektor ITK itu,” heran Andi Sinulingga, Rabu (4/5/2022).

“Siapa yang nitip dia jadi rektor di situ, sekuat itukah backing politiknya,” tambahnya.

Lebih lanjut kader Golkar tersebut juga bingung akan makin buruknya citra tentang Islam di era sekarang.

“Gerakan untuk membangun citra buruk pada hal-hal yang berbau Islam itu kok makin kesini makin kelihatan ya?,” beber Andi.

“Dulu sama sekali saya gak percaya,” sambungnya.

Andi Sinulingga pun menambahkan jika rektor tersebut mengklaim tak ada maksud apa-apa dari unggahannya dengan membandingkan dengan tokoh lain.

“Kalau rektor itu klaim gak punya maksud menghina krn dia sendiri beragama Islam,” terang Andi. “Maka kita bisa bilang Christiaan Snouck Hurgronje pun beragama Islam,” lanjutnya.

Puncaknya, kader Golkar ini menilai kalau Budi Santosa sebagai rektor ITK terlihat arogan akan pernyataannya.

“Rektor itu terlihat arogan, menantang atau melecehkan orang-orang yang meyakini hal-hal yang berbeda dengan keyakinan dirinya, tapi ngaku toleran,” pungkas Andi.

Sebelumnya rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Budi Santosa Purwokartiko mendadak viral di jagat media sosial.

Pasalnya, lewat sebuah artikelnya di akun Facebook pribadinya, Budi Santosa dinilai menyindir wanita jilbab sebagai manusia gurun.

Artikel yang dia tulis pada 27 April itu, Budi Santosa mulanya akui mewawancarai beberapa mahasiswa yang ikut mobilitas mahasiswa ke luar negeri.

Kata dia, bahwa mereka adalah mahasiswa dari program Dikti yang dibiayai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Rektor ITK itu mengatakan bahwa para mahasiswa ini tidak hobi melakukan demo atau aksi massa.

“Tidak satu pun saya mendapatkan mereka ini hobi demo. Yang ada adalah mahasiswa dengan IP yang luar biasa tinggi di atas 3.5 bahkan beberapa 3.8 dan 3.9,” katanya.

Dia mengatakan, para mahasiswa ini tidak pernah berbicara soal agama. Seperti kehidupan setelah mati.
“Mereka bicara tentang hal-hal yang membumi: apa Cita-citanya, minatnya, usaha-usaha untuk mendukung Cita-citanya, apa kontribusi untuk masyarakat dan bangsanya, nasionalisme dsb,” tulis rektor.

“Tidak bicara soal langit atau kehidupan sesudah mati. Pilihan kata-katanya juga jauh dari kata-kata langit:insaallah, barakallah, syiar, gadarullah, dsb” sindir Rektor.
Kemudian pada paragraf berikutnya, dia menyebut para mahasiswa ini tidak mengenakan kerudung atau jilbab. Dia menyindir kerudung dan jilbab sebagai pakaian manusia gurun.

“Mahasiswi yang saya wawancarai, tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun. Otaknya benar-benar openmind,” katanya.

“Mereka mencari Tuhan ke negara-negara maju seperti Korea, Eropa barat dan US, bukan ke negara yang orang-orangnya pandai bercerita tanpa karya teknologi,” tuturnya lagi.

Artikel itu mendapat kecaman luas di media sosial. Sang rektor disebut rasis dan tidak pancasilais.(faj/DN)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close