Aceh Darussalam

Peringatan Milad Muhammadiyah ke-113, Meneguhkan Gerakan Pencerahan, Merawat Aceh dan Indonesia Berkemajuan

DR.Nursanjaya Abdullah. Wakil ketua PDM Langsa, Dosen UNIMAL Lho’ Seumawe. Aktivis Da’wah Aceh

Banda Aceh, desernewa.com
Hari ini, 18 November 2025, adalah hari Milad Muhammadiyah ke-113. Sebuah usia yang menunjukkan betapa panjangnya perjuangan gerakan tajdid ini—bukan sekadar panjang secara waktu, tetapi panjang dalam manfaat, luas dalam kontribusi, dan dalam dalam pengaruhnya bagi umat, bangsa, dan terutama daerah kita tercinta Aceh.

Muhammadiyah dan Aceh: Sejarah yang Tidak Terpisah
Ketika KH. Ahmad Dahlan memulai gerakan pembaruan di Yogyakarta tahun 1912, gema tajdid itu tidak berhenti di tanah Jawa. Ia sampai ke Aceh—tanah yang sejak lama dijuluki Serambi Mekkah, tempat subur bagi dakwah, ilmu, dan perjuangan.

Di Aceh, Muhammadiyah diterima bukan sebagai pendatang, tetapi sebagai saudara seperjuangan. Mengapa? Karena Aceh adalah daerah yang kuat dengan tauhid, cinta ilmu pengetahuan, dan memiliki tradisi perlawanan terhadap penjajah serta kemungkaran.

Semangat itu sejalan dengan ruh Muhammadiyah. Dari Banda Aceh hingga Aceh Timur, dari Aceh Besar hingga Aceh Singkil, Muhammadiyah hadir membangun sekolah, menghidupkan masjid, menggerakkan pemuda, mendidik yatim, memperbaiki akhlak, serta membantu masyarakat yang membutuhkan.

Di masa konflik Aceh, Muhammadiyah turut bergerak dalam pendidikan dan kesehatan—menjadi kekuatan moral di tengah ketegangan.

Di masa tsunami 2004, Muhammadiyah hadir sebagai salah satu yang terpantas berdiri paling depan, mengobati luka Aceh, menghidupkan harapan, dan membangun kembali generasi.

Karena itu, Aceh dan Muhammadiyah bukan sekadar hubungan organisatoris.Ini hubungan emosional, sejarah, dan spiritual.

Milad ke-113 bagi Muhammadiyah adalah kesempatan besar untuk meneguhkan pencerahan di Tanah Rencong. Dengan semangat meneguhkan gerakan pencerahan untuk Indonesia Berkemajuan, terasa sangat relevan bagi Aceh.
Karena Aceh menghadapi tantangan yang tidak ringan:

1. Tantangan Moral dan Sosial
Pergaulan remaja, narkoba, kekerasan sosial, penyalahgunaan wewenang, bahkan konflik-konflik kecil di desa—semuanya membutuhkan pencerahan, bukan hanya penegakan hukum.

2. Tantangan Ekonomi
Kemiskinan, keterbatasan lapangan kerja, minimnya industri, serta ketergantungan pada sektor primer. Muhammadiyah harus hadir dengan dakwah pemberdayaan, koperasi modern, UMKM, dan literasi digital.

3. Tantangan Pendidikan
Banyak sekolah masih tertinggal dalam mutu. Generasi muda lebih terpikat konten, bukan ilmu. Di sinilah sekolah-sekolah Muhammadiyah harus tampil menjadi model pendidikan jujur, unggul, bernurani, dan membentuk karakter.

4. Tantangan Kemurnian Dakwah
Di Aceh, dakwah tetap harus mencerahkan—bukan memecah. Kita perlu menjaga Aceh dari paham ekstrem kanan maupun ekstrem kiri, dari dakwah kebencian, dari politisasi agama, dan dari upaya mengaburkan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin.

Muhammadiyah sejak awal mengajarkan tauhid tanpa kompromi. Aceh juga sejak dulu memegang teguh tauhid. Tetapi di zaman sekarang, tantangan tauhid bukan lagi berhala batu atau pohon, melainkan: Berhala jabatan, Berhala kekuasaan, Berhala uang, Berhala popularitas di media sosial, dan berhala syahwat dunia.

Disinilah peran Muhammadiyah untuk menghidupkan kembali tauhid sebagai energi peradaban, bukan sekadar dogma. Karena dengan Tauhid yang benar akan melahirkan kejujuran dalam administrasi, menumbuhkan integritas akademik (yang mulai langka saat ini), mengembangkan etika kerja, menguatkan keberanian menegakkan kebenaran, dan memberantas budaya anti-suap, anti-manipulasi, anti-ketidakjujuran.
Aceh membutuhkan kebangkitan moral, bukan hanya aturan formal. Dan Muhammadiyah harus menjadi teladan moral, bukan hanya pengamat sosial.

Untuk itu, Aceh membutuhkan SDM unggul, bukan SDM yang hanya menguasai teori, melainkan yang kokoh aqidah, jujur akhlak, disiplin kerja, dan kuat kompetensi. Melalui sekolah, madrasah, universitas, pesantren modern, dan kegiatan ortom, maka lewat IPM akan mencetak pemuda cerdas dan religius, dari NA membina muslimah berperan strategis, kaderisasi di Pemuda Muhammadiyah mencetak aktivis tangguh, Aisyiyah yang membangun ghirah keluarga berkemajuan, kerja keras MDMC dalam melatih Aceh menjadi daerah tangguh bencana, dan Lazismu sebagai lembaga yang menyejahterakan umat dengan zakat yang amanah.

Semua ini harus ditingkatkan, ditata lebih modern, lebih disiplin administrasi, dan lebih profesional. Amal usaha Muhammadiyah di Aceh harus menjadi lambang keunggulan, bukan hanya simbol perjuangan.

Aceh hari ini menghadapi berbagai persoalan pelik. Namun, di sinilah Muhammadiyah Aceh harus berdiri sebagai Penjaga Moral Publik yang tidak masuk pusaran politik praktis, tetapi memberikan panduan nilai tentang kejujuran, amanah, objektif, anti-korupsi, anti-kolusi.

Muhammadiyah bisa tampil sebagai Fasilitator Dialog untuk mencairkan ketegangan antar komunitas, antar lembaga, antar elemen masyarakat.
Dalam berbagai kesempatan, Muhammadiyah juga harus menjadi Pelopor Inovasi yang mendorong digitalisasi, manajemen modern, pengembangan UMKM, dan kolaborasi ekonomi yang sehat.

Intinya, Muhammadiyah harus tampil elegan dan terdepan dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan sosial.
Aceh membutuhkan gerakan yang tidak hanya berbicara, tetapi bekerja. dan itu adalah DNA-nya Muhammadiyah sejak 1912.

Oleh karena itu, di Milad ke-113 ini, mari kita perkuat keikhlasan. Jangan pernah lelah berjuang, meski kadang kita merasa berjalan sendirian. Karena keikhlasan adalah bahan bakar dakwah. Selanjutnya, perkuat kualitas amal usaha. Tata ulang manajemen, tingkatkan mutu guru, benahi administrasi, kuatkan disiplin—agar sekolah, TK, PAUD, dan rumah sakit kita menjadi pilihan utama masyarakat Aceh.

Kemudian perkuat semangat Tanwir. Hadirlah sebagai penerang, bukan memaki gelap, tetapi menyalakan cahaya peradaban dengan Islam yang Berkemajuan. Dan perkuat kaderisasi, karena regenerasi harus berjalan. Pemuda dan NA Aceh harus tampil sebagai wajah baru tajdid. Akhirnya, mari perkuat kesatuan hati. Jangan beri ruang bagi fitnah, intrik, dan perpecahan. Muhammadiyah hanya kuat jika kita bersatu dalam hati, pikiran, dan langkah.

Mari jadikan milad ini sebagai momentum introspeksi, membangun kembali konsolidasi, menjadi bagian pencerahan untuk kebangkitan Aceh yang lebih berkeadaban. Kita adalah pewaris Ahmad Dahlan. Kita adalah tulang punggung dakwah pencerahan. Kita adalah pelanjut amal yang tidak boleh berhenti.

Selamat Milad ke-113, Persyarikatan Muhammadiyah. Semoga Allah meneguhkan langkah kita dalam dakwah pencerahan.

Nasrun minallaah wa fathun qariib. Wa basy-syiril mukminin.
(T.Jamaluddin)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close