Nasional

Kampung Silang Empat Cubadak Barat Krisis Air, Warga Laksanakan Gotong Royong Massal

Masyarakat Silang Empat Nagari Cubadak Barat saat gotong royong merenovasi pipa saluran air bersih, Minggu 25 Agustus 2024.(Desernews/ Eddi Gultom)

Pasaman, desernews.com
Masyarakat Kampung Silang Empat, Nagari Cubadak Barat Kecamatan Dua Koto, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat setahun terakhir ini sangat mengeluh dikarenakan krisis air bersih.

Pasalnya Pamsimas yang sudah dibangun pada tahun 2018 telah dirusak oleh tangan tangan jahil yang tidak bertanggung jawab. Oknum perusak pipa air tersebut sudah diketahui identitasnya, tetapi tidak seorangpun warga Silang Empat yang berani melaporkannya kepihak penegak hukum.

Karena air krisis, terpaksa warga bergotong royong untuk memperbaiki sarana air minum yang sudah tidak berfungsi. Bukan memperbaiki pipa air yang rusak kena lubangi tetapi memperbaiki pipa air yang merupakan bangunan Unicef yang dibangun pada tahun 1980 dengan menggunakan dana Bank Dunia.

Menurut salah seorang warga Silang Empat kepada desernews Minggu 26 Agustus 2024 mengatakan, rusaknya sarana air minum yang dibangun Unicef akibat tidak adanya perawatan. Setelah sarana air bersih ini rusak warga Silang Empat kembali resah dan kalang kabut untuk membutuhkan air. Terpaksa untuk keperluan mandi dan mencuci harus pergi ke sungai.

Akibat kerisis air kembali terjadi pada tahun 2018 maka melalui Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) kembali dibangun dan masyarakat saat itu mudah untuk mendapatkan air.

Namun berselang lebih kurang 2 tahun belakangan, air bersih yang berasal dari Pamsimas itu mudah didapatkan dengan membayar Rp.1000/meter kubik. Namun lancarnya air itu hanya beberapa saat, kemudian kembali bermasalah dan macet, kadang masuk terkadang tidak hingga akhirnya air tidak ada lagi yang masuk kerumah.

Menanggapi kemacetan air tersebut, pengurus air yaitu si Mul cs yang coba mencari tau apa penyebab air tidak ada masuk. Lalu mereka menelusuri seluruh pipa apakah ada pipa paralon yang bocor.

Setelah diperiksa pipa dari pangkal hingga kesumber mata air yang berada di atas bukit (Dolok). Ternyata pipa air tersebut sudah bocor dilobangi oleh dua orang oknum yang membutuhkan air untuk kepentingan peribadi.

Namun walaupun pengurus air sudah menemukan hal itu tetapi mereka enggan melaporkannya ke polisi bahkan lebih memilih merenovasi bekas sarana air yang rusak dari pada memerintahkan oknum perusak tersebut untuk memperbaikinya.

Atau kalau tidak mau memperbaikinya dilaporkan kepada polisi. Cara itukan lebih baik supaya orang jera untuk merusak sarana kepentingan umum. Sarana air ini bukan dipergunakan untuk kepentingan peribadi seseorang, tetapi untuk keperluan orang sekampung.

Hal perusakan pipa air oleh oknum yang tidak bertanggungjawab sudah juga pernah terjadi di Kampung Kepala Bandar Nagari Cubadak. Saat itu warga bingung siapa yang merusak pipa air, sehingga masyarakat kesulitan air. Pada suatu hari perusak pipa tersebut kelihatan oleh seorang ibu-ibu, bahwa perusak pipa itu adalah seorang warga.

Agar pipa air tidak kena rusak lagi warga setempat melaporkannya ke Polsek Dua Koto. Polisi yang telah menerima laporan lalu memanggil oknum perusak tersebut. Saat itu polisi menanyakan mau ditahan atau mau memperbaiki pipa yang sudah dirusak.

Mendengar akan ditahan, oknum tersebut ketakutan dan memilih untuk memperbaiki pipa yang dirusaknya. Setelah memperbaiki pipa yang rusak tersebut oknum terkait disuruh menandatangani surat perjanjian tidak akan melakukan perusakan lagi, dan apabila ada kerusakan terhadap pipa maka tidak ada orang lain, oknum tersebut langsung ditangkap dan ditahan.

Setelah peristiwa itu terjadi dan sampai ke polisi hingga sekarang pipa air tidak pernah lagi rusak dan air tidak pernah lagi kering, sehingga masyarakat merasa tentram.

Bila kasus perusakan pipa air di Silang Empat tidak sampai ketangan polisi kita khawatir masih banyak kasus kasus yang bakal terjadi terutama menyangkut kasus air dan kasus kasus lainnya. Sehingga masalah krisis air di Silang Empat tidak akan pernah berhenti sebab walaupun sarana air sudah ada tapi tetap saja ada oknum yang berani merusaknya untuk kepentingan pribadi.

Seperti yang disampaikan Ustadz Erpin kepada wartawan mengatakan, sejak dia kecil sampai besar dan sekarang sudah berusia 40 tahun, namun masalah air di Silang Empat tidak pernah ada nyamannya. Sebentar masuk kemudian tidak ada lagi,” ucapnya.(Eddi Gultom)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close