Aceh Darussalam

Tiga Etika Dalam Pemerintahan Islam

DR.KH.Muharir Al Asy Ari LC M.Ag, Rektor UNMAH Bireun.

Banda Aceh, desernews.com
Cendikiawan muslim Ustaz Dr KH Muharir Al Asy Ary Lc MAg menyampaikan tiga etika dalam pemerintahan Islam pada ceramah shubuh di Masjid Raya Baiturrahman (MRB) Banda Aceh, Sabtu (4/1/2024). Tiga etika tersebut, yaitu musyawarah, adil, dan pemaaf.

“Musyawarah secara garis besar adalah proses mendapatkan masukan melalui rembuk dan dialog. Dalam musyawarah, komunikasi berjalan dua arah, two-way traffic. Bukan komunikasi satu arah, one-way traffic,” ungkapnya.

Allah Swt memerintahkan umat Islam untuk bermusyawarah dalam segala urusan. Hal ini ditegaskan dalam Surah Ali Imran ayat 159: “Wasyawirhum fil amri” (dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan).

Surah Asy-Syura ayat 37-38 juga menekankan, orang beriman menjauhkan diri dari perbuatan keji dan mungkar, serta saat marah mereka memberi maaf. Dalam urusan mereka, keputusan diambil melalui musyawarah.

Ustaz Muharrir menegaskan, musyawarah dilakukan dengan tujuan mendapatkan masukan dari seluruh peserta. Proses ini dilakukan secara sopan, tanpa paksaan, dan tanpa perselisihan yang berlebihan. Keputusan yang diambil merupakan hasil kesepakatan bersama.

Rasulullah saw selalu melibatkan para sahabat dalam musyawarah untuk setiap kebijakan penting. Salah satu contohnya adalah musyawarah yang dilakukan saat Perang Badar. Seorang sahabat berkata, “Aku selalu tunduk dan patuh pada keputusan Rasulullah.”

“Musyawarah juga dilakukan dalam pemilihan Khalifah Utsman bin Affan. Semua sahabat menerima hasil musyawarah dengan penuh kepatuhan,” tegas Ustaz Muharrir.
Menurut Ustaz Muharrir, keputusan yang diambil melalui musyawarah diharapkan dapat diterapkan secara efektif, sehingga tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari.

Ia menambahakan, etika yang harus dijaga dalam musyawarah meliputi, mengutamakan kesopanan, memberikan kesempatan kepada semua peserta untuk berpendapat, tidak memaksakan kehendak pribadi, serta menerima hasil keputusan dengan lapang dada.

“Musyawarah menghasilkan keputusan yang jelas dan menyelesaikan masalah. Selain itu, musyawarah mempererat hubungan antar peserta dengan saling memaafkan, sebagaimana dianjurkan dalam ajaran Islam,” pungkasnya. Dua etika lainnya akan diuraikan pada ceramah berikutnya. (Sayed MH/T.Jamaluddin/DN)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close