Kacau! Investigasi MUI Sebut Penyimpangan di Ponpes Al Zaytun Indramayu, Dosa Jamaah Bisa Ditebus dengan Uang

Jambi, desernews.com
Kacau! Investigasi MUI sebut ada penyimpangan di Ponpes Al Zaytun Indramayu, sebut dosa jamaah bisa ditebus dengan uang.
Lagi-lagi kontroversi terhadap Ponpes Al Zaytun Indramayu, di bawah pimpinan Panji Gumilang menjadi perbincangan.
Terbaru, tokoh NU menyebut bahwa sudah terbukti adanya penyimpangan di Ponpes Al Zaytun Indramayu, sehingga keterlaluan jika tidak ditutup.
Terbuktinya penyimpangan di Ponpes Al Zaytun Indramayu ini, dikatakan Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Noval Assegaf alias Gus Noval, harus ditutup.
Adapun bukti yang dimaksud telah terjadi penyimpangan di Ponpes Al Zaytun Indramayu, ialah di antaranya, sebut bahwa dosa jamaah bisa ditebus dengan uang.
Temuan penyimpangan di Ponpes Al Zaytun Indramayu ini, diketahui dari hal investigasi dan penelitian beberapa tahun lalu.
Investigasi dan penelitian yang terbukti adanya penyimpangan di Ponpes Al Zaytun Indramayu ini, dilakukan masing-masing oleh pertama tim bentukan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan tim kedua Tim Investigasi Aliran Sesat (TIAS).
Hal ini, karena NII KW IX adalah salah satu gerakan sempalan dari gerakan NII yang dipimpin oleh Panji Gumilang alias Abdul Salam alias Prawoto.
Di mana, dalam Ponpes Al Zaytun Indramayu itu adanya ajaran dari syariat Islam di dalam NII KW IX.
Berikut temuannya, yang dihimpun dari fajar.co.id, dosa jamaah bisa ditebus dengan uang, keharusan untuk mendahulukan ajaran NII dibandingkan dengan shalat, dan ajaran terkait hijrah.
Kedua, kajian yang dilakukan terhadap MAZ menghasilkan belum ditemukan adanya penyimpangan dalam kurikulum yang diajarkan.
Tokoh NU Gus Noval pun menyebut telah terbukti penyimpangan maka sudah seharusnya ditutup.
Menurut dia, sangat terlalu jika tidak ditutup padahal sudah terbukti adanya penyimpangan di Ponpes Al Zaytun Indramayu.
“Sudah ditemukan bukti. Jika tidak ditutup, terlalu!,” ujar Gus Noval dalam keterangannya, mengutip fajar.co.id, pada Senin 8 Mei 2023.
Baca nih, heboh salat shaf bercampur di Ponpes Al Zaytun Indramayu, Ustaz Adi Hidayat beri komentar.
Ustaz kondang tersebut, menyebut bahwa Allah sudah mengatur terkait salat wajib yang harus dijalankan oleh umat muslim di seluruh dunia.
Sebagaimana diketahui, bahwa kontroversi Ponpes Al Zaytun Indramayu belum kunjung selesai.
Bermula dari adanya potongan video yang memperlihatkan salat shaf bercampur antara laki-laki dan perempuan di Ponpes Al Zaytun Indramayu di bawah pimpinan Panji Gumilang tersebut.
Pro dan kontra pun terjadi akibat salat shaf bercampur di Ponpes Al Zaytun Indramayu tersebut.
Termasuk pro dan kontra dari alumni Ponpes Al Zaytun Indramayu.
Terkait yang lagi heboh tersebut, pendakwah Ustaz Adi Hidayat atau biasa disapa UAH berikan tanggapan melalui kanal YouTube Adi Hidayat Official.
Dirinya mengatakan, bahwa Allah SWT sudah mengatur ketentuan salat dengan luar biasa.
Untuk perempuan, kata UAH berada di urutan belakang.
Meskipun barisan akhir paling rendah tingkatannya bagi pria, tapi bukan berarti perempuan yang mengisi saf di belakang pria mendapatkan tingkatan yang rendah pula.
Hal ini diatur,untuk menghindari pria dan perempuan bercampur saat salat.
“Diambil jarak agar tidak terjadi pencampuran antara laki-laki dan perempuan,” tegas UAH.
Kata dia, shaf lelaki yang terbaik adalah di depan, yang paling depan.
Dan urutan terendah di belakang. Sehingga, kata dia orang-orang laki-laki di shaf paling depan adalah yang diapresiasi oleh Nabi Muhammad SAW.
“Jadi orang yang dapat saf paling depan itu diunggulkan, diapresiasi oleh Nabi SAW,” Sambung Adi Hidayat.
Terkait memberikan jarak antara laki-laki dan perempuan, lanjut UAH, saat ini sejumlah masjid di Indonesia umumnya sudah memasang tirai agar tidak terjadi pencampuran antara saf wanita dan laki-laki.
“Sebelumnya, UAH menyebutkan bahwa memang salat adalah ibadah yang paling menentukan untuk umat muslim.
Salat menjadi sangat menentukan karena saat kita kembali kepada Allah SWT, salat adalah amalan pertama yang Allah akan hisab yang akan menentukan kebaikan atau ketidak baikan amalan-amalan lainnya,” ujar Ustaz Adi Hidayat, dilansir pada 5 Mei 2023. (JI)




