Aceh Darussalam

Akhlak Dibalik Gelar

Pengajian Rutin Ahad Subuh di Masjid Taqwa Muhammadiyah Aceh, Oleh Ustadz Dr. Khairuddin, MA, (27/9/2026)

Ustadz Dr. Khairuddin MA.

Banda Aceh, desernews.com
Pada kesempatan Subuh ini kita akan membicarakan sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita, tetapi sering luput untuk kita renungkan, yaitu “Akhlak di Balik Gelar.”

Dalam khazanah Islam, persoalan ilmu, kedudukan, pujian, kehormatan, dan bagaimana seseorang memandang dirinya telah dibahas oleh para ulama. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, khususnya ketika membahas penyakit hati berupa cinta kedudukan dan pujian, menjelaskan bahwa manusia dapat merasa senang ketika dipuji karena pujian itu membuat dirinya merasa memiliki kesempurnaan. Bahkan, salah satu sebab kuat seseorang mencintai pujian adalah karena ia merasakan dirinya memiliki kelebihan atau kesempurnaan tertentu.

Karena itu, sesungguhnya masalahnya bukan pada gelar, tetapi pada hati yang berada di balik gelar tersebut.

Gelar akademik, seperti sarjana, magister, doktor, profesor, dan berbagai gelar keilmuan lainnya, diperoleh melalui proses pendidikan dan pencapaian akademik. Gelar sosial atau keagamaan seperti ustadz, teungku, guru, tokoh masyarakat, dan sebutan lainnya dapat diberikan oleh masyarakat karena ilmu, pengalaman, pengabdian, atau kebiasaan yang berkembang dalam lingkungan tertentu.

Semua itu pada dasarnya bukan sesuatu yang salah. Bahkan ilmu dan keahlian adalah sesuatu yang harus dihormati.

Yang menjadi persoalan adalah ketika gelar berubah dari identitas menjadi identitas diri yang harus selalu dipertahankan; dari penghargaan menjadi sumber kesombongan; dari amanah menjadi alat untuk menuntut penghormatan.

Disinilah kita harus berhati-hati.

Seseorang yang memiliki gelar seharusnya semakin menyadari bahwa dirinya masih memiliki kekurangan. Semakin tinggi ilmu seseorang, semestinya semakin terbuka dirinya terhadap kebenaran, semakin mudah menerima nasihat, dan semakin rendah hati ketika dikoreksi.

Sebab ilmu yang tidak melahirkan kerendahan hati dapat berubah menjadi penyakit bagi pemiliknya.

Allah mengingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri…”
(QS. An-Nisa: 135).

Ayat ini sangat penting dalam konteks kita. Allah tidak mengatakan, berlaku adillah hanya ketika berhadapan dengan orang yang tidak memiliki kedudukan. Bahkan terhadap diri sendiri pun kita harus berani bersikap adil.

Artinya, gelar tidak boleh membuat kita kehilangan objektivitas terhadap diri sendiri.

Kalau kita salah, kita harus mampu mengatakan, “Saya salah.”

Kalau pendapat kita keliru, kita harus mampu mengatakan, “Pendapat saya perlu diperbaiki.”

Kalau orang lain memberikan kritik yang benar, kita tidak boleh menolaknya hanya karena kritik itu datang dari orang yang gelarnya lebih rendah daripada kita.

Jangan sampai kita berpikir: “Dia siapa? Gelarnya apa? Apa kapasitasnya mengkritik saya?”

Padahal yang harus kita tanyakan bukan pertama-tama siapa yang berbicara, tetapi apa yang dibicarakan dan apakah yang disampaikannya benar.

Kebenaran tidak menjadi salah hanya karena disampaikan oleh orang yang tidak memiliki gelar.

Dan kesalahan tidak berubah menjadi kebenaran hanya karena disampaikan oleh orang yang memiliki banyak gelar.

Salah satu penyakit hati yang perlu kita waspadai adalah merasa diri sudah sempurna.

Allah berfirman: “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32).

Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat dalam. Jangan terlalu cepat memberikan penilaian positif terhadap diri sendiri. Jangan merasa bahwa karena kita memiliki ilmu, maka kita pasti lebih baik. Jangan merasa karena kita memiliki kedudukan, maka kita pasti benar. Jangan merasa karena masyarakat menghormati kita, maka kita tidak mungkin melakukan kesalahan.

Manusia bisa memiliki gelar yang tinggi, tetapi akhlaknya belum tentu tinggi.

Sebaliknya, seseorang mungkin tidak memiliki gelar yang panjang di belakang namanya, tetapi memiliki kejujuran, ketulusan, kesabaran, dan kerendahan hati yang sangat tinggi.

Karena itu, ukuran kemuliaan di hadapan Allah bukanlah panjangnya gelar, tetapi ketakwaan.

Rasulullah SAW sendiri memberikan pelajaran yang sangat kuat tentang kerendahan hati.

Dalam hadis sahih, Rasulullah SAW bersabda bahwa seseorang tidak patut mengatakan dirinya lebih baik daripada Nabi Yunus bin Matta.

Perhatikan pesan moralnya.

Kalau terhadap seorang nabi saja manusia tidak layak membanggakan dirinya, apalagi kita yang hanya manusia biasa.

Maka semakin tinggi kedudukan seseorang, seharusnya semakin besar pula kesadarannya bahwa di atas dirinya masih ada Allah yang Mahatahu, dan di hadapan Allah semua manusia akan mempertanggungjawabkan dirinya sendiri.

Jangan sampai gelar membuat seseorang sulit menerima nasihat.
Jangan sampai jabatan membuat seseorang merasa tidak boleh dikritik.
Jangan sampai kedudukan membuat seseorang hanya mau mendengar orang yang memujinya.

Sebab ketika seseorang hanya mau mendengar pujian dan menolak kritik, sesungguhnya ia sedang membangun lingkungan yang berbahaya bagi dirinya sendiri.

Rasulullah SAW juga memperingatkan umatnya tentang pujian yang berlebihan. Dalam hadis sahih, Rasulullah SAW melarang pujian yang berlebihan karena pujian semacam itu dapat menjadi fitnah bagi orang yang dipuji.

Mengapa?

-Karena pujian yang terus-menerus dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk melihat kekurangan dirinya.

-Ia mulai percaya bahwa dirinya memang sehebat yang dikatakan orang.

-Ia mulai merasa pendapatnya selalu benar.

-Ia mulai sulit menerima koreksi.

Pada tahap tertentu, bukan lagi kebenaran yang ia cari, tetapi pengakuan terhadap dirinya.

Ini yang harus kita waspadai.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa kecintaan terhadap pujian antara lain muncul karena manusia merasakan bahwa dirinya memiliki kesempurnaan. Ketika dipuji, ia merasa kekurangan dirinya tertutupi dan kelebihannya diakui. Sebaliknya, ketika dikritik, ia merasakan adanya kekurangan sehingga muncul rasa tidak nyaman.

Karena itu, salah satu ukuran kesehatan hati seseorang adalah bagaimana reaksinya ketika dikritik.

Kalau dipuji dia senang, tetapi tetap rendah hati, itu manusiawi.

Kalau dikritik dia melakukan introspeksi, itu tanda kedewasaan.

Tetapi kalau dipuji dia merasa dirinya hebat, sementara ketika dikritik dia marah, tersinggung, menyerang balik, dan mencari alasan untuk membenarkan diri, maka ada sesuatu yang perlu diperiksa dalam hatinya.

Mungkin bukan ilmunya yang bermasalah.

Mungkin bukan gelarnya yang bermasalah.

Tetapi cara hatinya memandang gelar dan ilmu tersebut.

Tasawuf dan pembentukan akhlak

Dalam tradisi keilmuan Islam, pembahasan tasawuf pada dasarnya sangat erat dengan persoalan pembentukan jiwa dan akhlak. Apa pun istilah atau corak tasawuf yang digunakan, bagi pembicaraan kita yang paling penting adalah bagaimana ilmu tersebut menghasilkan tazkiyatun nafs, yaitu usaha membersihkan jiwa dari penyakit seperti ujub, takabur, riya, cinta kedudukan, dan cinta pujian.

Sebab ukuran keberhasilan ilmu agama bukan hanya seberapa banyak yang kita ketahui, tetapi seberapa jauh ilmu itu mengubah perilaku kita.

Kita bisa berbicara tentang tawaduk, tetapi apakah kita tawaduk?

Kita bisa berbicara tentang ikhlas, tetapi apakah kita ikhlas?

Kita bisa mengajarkan akhlak, tetapi apakah keluarga dan orang-orang terdekat merasakan akhlak yang baik dari kita?

Kita bisa memiliki gelar yang menunjukkan keilmuan, tetapi apakah ilmu itu membuat kita semakin dekat kepada Allah?

Di sinilah letak persoalan yang lebih dalam.

Gelar menunjukkan apa yang telah kita capai. Akhlak menunjukkan siapa diri kita sebenarnya.

Jamaah yang berbahagia,

Ada satu kalimat yang perlu kita renungkan:

“Jika kita terlalu ingin orang lain mengetahui keistimewaan kita, boleh jadi kita sedang mencari pengakuan, bukan sedang mencari keikhlasan.”

Orang yang benar-benar memiliki kelebihan tidak selalu sibuk menjelaskan kelebihannya.

Orang yang berilmu tidak harus selalu menunjukkan bahwa dirinya paling berilmu.

Orang yang memiliki kedudukan tidak harus selalu menuntut agar kedudukannya dihormati.

Justru semakin matang seseorang, semakin ia memahami bahwa penghormatan manusia itu sementara.

Hari ini kita dipanggil dengan gelar tertentu.

Besok mungkin gelar itu tidak lagi digunakan.

Hari ini kita dihormati karena jabatan. Besok jabatan itu berpindah kepada orang lain.
Hari ini nama kita disebut dengan berbagai kehormatan.
Tetapi ketika kita meninggal dunia, semua gelar itu berhenti.

Yang kita bawa bukan gelar akademik. Bukan jabatan. Bukan popularitas. Bukan pujian manusia.

Yang kita bawa adalah amal dan akhlak kita di hadapan Allah.
Karena itu, mari kita jadikan gelar sebagai amanah, bukan kebanggaan.

Ilmu sebagai jalan untuk merendahkan hati, bukan meninggikan diri.
Kedudukan sebagai sarana melayani, bukan untuk dilayani.
Dan penghormatan manusia sebagai ujian, bukan ukuran kemuliaan.

Kalau kita seorang guru, jadilah guru yang mau belajar.

Kalau kita seorang ustadz, jadilah ustadz yang mau menerima nasihat.

Kalau kita seorang doktor, profesor, pemimpin, atau tokoh masyarakat, jadilah orang yang semakin mudah mengatakan, “Saya bisa salah.”

Sebab orang yang mampu mengakui kesalahan bukanlah orang yang rendah.

Justru sering kali, itulah tanda bahwa seseorang memiliki kebesaran jiwa.

Mari kita bertanya kepada diri sendiri:

-Apa yang terjadi pada hati kita setelah memperoleh gelar?

-Apakah kita menjadi lebih rendah hati atau lebih tinggi hati?

-Apakah kita semakin mudah menerima kritik atau semakin sulit dikoreksi?

-Apakah ilmu membuat kita semakin dekat kepada Allah atau semakin sibuk mencari pengakuan manusia?

-Apakah gelar yang melekat pada nama kita membuat orang lain merasa aman, dihargai, dan mendapatkan manfaat?

-Atau justru membuat orang takut berbicara kepada kita?

Inilah yang harus kita evaluasi.

Karena pada akhirnya, gelar boleh berada di depan atau di belakang nama, tetapi akhlak harus melekat di dalam diri.

Gelar dapat membuat seseorang dihormati manusia.

Tetapi akhlak yang baik, ketakwaan, dan keikhlasanlah yang menjadi bekal menghadap Allah.

Mudah-mudahan Allah memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, hati yang tawaduk, jiwa yang ikhlas, keberanian menerima kebenaran meskipun datang dari orang lain, dan kemampuan untuk selalu mengoreksi diri sebelum mengoreksi orang lain.

Semoga gelar yang kita miliki menjadi amanah yang memperbesar manfaat kita bagi umat, bukan menjadi hijab yang menghalangi kita dari kebenaran.

Amin ya Rabbal ‘alamin. (T. Jamaluddin)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close