Aceh Darussalam

Ketua YDMDI Aceh Lakukan Kunjungan Edukasi ke Malaysia, Pelajari Model PAUD Inklusif dan Agrowisata Buah Tin

Ist.

Banda Aceh, desernews.com
Dalam upaya memperkuat jejaring pendidikan dan mengembangkan inovasi kelembagaan di Aceh, Ketua Yayasan Dunia Melayu Dunia Islam Aceh (YDMDI Aceh), Dr. Mulia Rahman, MA, melaksanakan kunjungan edukasi ke Shah Alam, Selangor, Malaysia pada 27–28 Juli 2026. Hal itu disampaikan oleh Ketua Yayasan Dr. Mulia Rahman kepada wartawan Minggu, 2 Agustus 2026 di Banda Aceh.

Lebih lanjut Dr. Mulia Rahman menambahkan,
Kunjungan tersebut didampingi Sekretaris Yayasan YDMDI Aceh, Zulfadli SE, Pembina Yayasan, Datuk H. Said Aldi Al Idrus, SE, MM dan Drs. Aidi Kamal. Agenda utama kunjungan adalah memperkuat kerja sama serta mempelajari praktik-praktik terbaik (best practices) dalam bidang pendidikan anak usia dini dan pengembangan sektor agroedukasi yang dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan program Yayasan Dunia Melayu Dunia Islam Aceh.

Rombongan YDMDI Aceh disambut langsung oleh Dato’ Dr. Cpt. Bachtiar Aliff Ibrahim, Pengasas sekaligus Ketua Pegawai Eksekutif (CEO) Al Kauthar Eduqids (AKE), bersama Datin Dr. Nor Fadilah Alias, Pengasas dan Pengarah Al Kauthar Eduqids.

Pada hari pertama, rombongan berkesempatan mengunjungi salah satu Tadika Al Kauthar Eduqids untuk mempelajari secara langsung sistem manajemen lembaga pendidikan anak usia dini yang telah berkembang pesat di Malaysia. Dalam kunjungan tersebut, rombongan memperoleh berbagai informasi mengenai tata kelola kelembagaan, sistem pembagian kelas berdasarkan perkembangan peserta didik, metode pembelajaran yang berpusat pada anak, hingga berbagai program unggulan dalam pengembangan karakter, kreativitas, dan kecerdasan anak usia dini.

Salah satu hal yang menjadi perhatian khusus rombongan adalah penerapan pendidikan inklusif yang diterapkan Al Kauthar Eduqids. Dalam sistem pembelajaran tersebut, anak-anak berkebutuhan khusus belajar bersama anak-anak lainnya tanpa adanya sekat atau pemisahan kelas. Pendekatan ini dinilai mampu menumbuhkan rasa saling menghargai, empati, dan membangun lingkungan belajar yang ramah dan inklusif sejak usia dini.

Keberhasilan model pendidikan Al Kauthar Eduqids juga terlihat dari jaringan lembaga yang terus berkembang. Hingga saat ini, AKE telah membina sekitar 300 taman kanak-kanak (Tadika) yang tersebar di berbagai wilayah Malaysia, menjadikannya salah satu jaringan pendidikan anak usia dini terbesar di negeri jiran tersebut.

Mulia Rahman menyampaikan bahwa berbagai pengalaman yang diperoleh selama kunjungan ini menjadi referensi penting bagi pengembangan pendidikan anak usia dini di Aceh.

Selain mengunjungi lembaga pendidikan, rombongan juga melakukan kunjungan edukasi ke kawasan AKE Benefigs, sebuah kawasan agrowisata dan pusat budidaya buah tin yang dikelola oleh Dato’ Dr. Cpt. Bachtiar Aliff Ibrahim. Kawasan tersebut memiliki ribuan pohon buah tin dari berbagai varietas yang telah berproduksi dan menjadi salah satu destinasi edukasi pertanian modern di Malaysia.

Di lokasi tersebut, rombongan mempelajari teknik budidaya buah tin, sistem pengelolaan kebun, proses pengembangan produk turunan buah tin, hingga strategi pengembangan agrowisata berbasis edukasi yang melibatkan masyarakat.

Menurut Mulia Rahman, konsep agrowisata yang dikembangkan di AKE Benefigs tidak hanya memberikan nilai ekonomi, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat dari berbagai kalangan usia.

“Kawasan ini sangat layak menjadi destinasi pembelajaran bagi pelajar, mahasiswa, akademisi, maupun masyarakat umum. Selain memberikan wawasan tentang pertanian modern, keberadaan kebun buah tin juga mengingatkan umat Islam akan salah satu buah yang dimuliakan Allah SWT dalam Al-Qur’an melalui Surah At-Tin. Karena itu, kunjungan ini memiliki nilai ilmiah sekaligus nilai spiritual,” ungkapnya.

Sementara Said Aldi Al Idrus, berharap hasil kunjungan ini dapat ditindaklanjuti melalui kerja sama yang lebih luas antara Yayasan Dunia Melayu Dunia Islam Aceh dengan Al Kauthar Eduqids Malaysia, khususnya dalam bidang pendidikan, pelatihan guru, pengembangan kurikulum anak usia dini, serta pertukaran pengalaman antarlembaga.(Sayed M. Husen/ T. Jamaluddin)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close