Aceh Darussalam

Gulai Engkot Paya, Masakan Tradisional Aceh yang Sangat Digemari Wisatawan

Ist.

Aceh Besar, desernews.com
Masakan khas tradisional Aceh, gulai engkot paya (gulai ikan rawa) atau ikan gabus salah satu kuliner Aceh yang sangat di gemari para pengunjung pariwisata di Aceh, khususnya Aceh Besar.

Gulai engkot (ikan) paya (rawa) biasanya yang dimasak itu ikan gabus dicampur dengan buah jantung pisang yang dicincang kecil-kecil dan diracik dengan bumbu rempah-rempah khas Aceh, seperti asam sunti.

“Asam sunti adalah belimbing wuluh yang diawetkan, dan rempah-rempah lain untuk penikmat rasa,” kata Bang Gam, pemilik rumah makan Bang Agam di Kayei Le, Simpang Tiga Sibreh, Aceh Besar.

“Gulai engkot paya adalah gulai yang sangat digemari oleh para tamu, baik itu pelancong lokal maupun pelancong dari luar Aceh,” kata Bang Gam ketika ngobrol-ngobrol dengan Desernews
pada Sabtu, 20 Juni 2026 di Kayei Le.

Abang Agam, pemilik rumah makan Bang Gam, di Kayei Le, Sibreh Simpang Tiga.

Rumah makan Bang Gam berdiri sejak Tahun 2010 dan tetap menyajikan menu gulai engkot paya, ada juga gulai manok bak kala (gulai ayam batang cekala) atau batang kincung.

“Rumah makan ini bisa menghabiskan puluhan kilogram ikan gabus dan 50 ekor ayam kampung dalam sehari,” jelasnya.

Salah seorang pengunjung dari Yogyakarta, Very Julianto, M.Psi, psikolog mahasiswa program Doktor ilmu psikologi UGM mengatakan, gulai engkot paya rasanya khas, rasa asam sunti yang dipadu dengan asam jeruk nipis terasa nikmat di lidah, ditambah dengan rasa jantung pisang yang nikmat,” ujarnya.

Very Julianto menyebut kuliner Aceh adalah kuliner yang nikmat. Very ke Aceh dalam rangka tugas penelitian untuk bahan Disertasi.

Gulai engkot paya yang siap dihidangkan.

Selama di Aceh, Very telah menikmati mie Aceh, gulai kuwah beulangong dan hari ini bisa menikmati gulai engkot paya.

Rasanya benar-benar nikmat,” ucap Very.

“Bagi para pengunjung ke Aceh kalau belum menikmati gulai engkot paya, kuwah beulangong, kare bebek dan gulai ayam batang kincung atau batang cekala, belum sempurna berkunjung ke Aceh,” kata Very Julianto, M,Psi, Psikolog sambil menyela keringat karena makanannya yang pedas, tapi nikmat.(T. Jamaluddin)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close