Sekolah Muhammadiyah di Aceh Harus Bangkit

Banda Aceh, desernews.com
Sekolah Muhammadiyah di Aceh harus bangkit pasca bencana hidrometeorologi, ini bukan sekadar seruan, melainkan sebuah keharusan sejarah. Aceh pernah dikenal sebagai pusat peradaban, tempat lahirnya ulama, pemikir, dan pejuang tangguh. Namun hari ini, tantangan zaman menuntut lebih dari sekadar kebanggaan masa lalu. Sekolah-sekolah di Aceh harus kembali menjadi ruang tumbuhnya generasi unggul—cerdas secara intelektual, kuat secara spiritual, dan tangguh dalam menghadapi perubahan global , hal ini disampaikan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Aceh DR. H. Iskandar Hasibuan
usai kunjungannya ke Kabupaten Singkil, Subulussalam dan Aceh Selatan (2/5).
Kebangkitan ini harus dimulai dari cara kita memandang pendidikan. Sekolah tidak lagi cukup hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan. Ia harus menjadi ekosistem pembelajaran yang hidup, yang mampu membentuk karakter, mengasah keterampilan, dan menumbuhkan kesadaran sosial peserta didik. Di sinilah pentingnya menghadirkan pembelajaran yang mendalam, papar Hasibuan.
Pembelajaran mendalam bukan sekadar memahami materi di permukaan, tetapi menggali makna, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata, serta mendorong peserta didik berpikir kritis dan reflektif. Siswa tidak hanya dituntut untuk tahu, tetapi juga memahami, mengaplikasikan, dan menciptakan. Guru pun ditantang untuk menjadi fasilitator yang menginspirasi, bukan sekadar penyampai informasi.
Lebih jauh lagi menurut Hasibuan, kebangkitan sekolah Aceh harus dibangun melalui pendekatan holistik integratif. Pendidikan harus melihat peserta didik sebagai manusia utuh—yang memiliki dimensi akal, hati, jasmani, dan sosial. Kurikulum perlu dirancang tidak terpisah-pisah, melainkan saling terhubung antara ilmu pengetahuan, nilai-nilai keislaman, budaya lokal Aceh, serta keterampilan abad ke-21.
Pendekatan holistik integratif juga berarti adanya kolaborasi yang kuat antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Pendidikan tidak bisa berjalan sendiri. Lingkungan harus menjadi bagian dari proses pembelajaran. Nilai-nilai kearifan lokal Aceh seperti gotong royong, adab, dan semangat ke-Islaman harus dihidupkan kembali dalam praktik pendidikan sehari-hari.
Jika pembelajaran mendalam dan holistik integratif benar-benar diterapkan, maka sekolah Aceh tidak hanya akan melahirkan lulusan yang pintar, tetapi juga berakhlak, kreatif, dan siap menghadapi masa depan. Inilah fondasi kebangkitan yang sesungguhnya ucap Hasibuan bersemangat.
“Saatnya sekolah Aceh bangkit dengan visi yang jelas, semangat yang kuat, dan langkahr nyata yang terarah. Karena dari ruang-ruang kelas hari ini, masa depan Aceh sedang dibentuk,” ucapnya mengakhiri pembicaraan. (T. Jamaluddin)




