Nasional

‎‎Analisa Kepemimpinan Bupati Pasaman Welly Suhery – H. Parulian Dalimunthe ‎Menjawab Isu Rotasi dan Pergantian Jabatan ASN

Bupati Pasaman Welly Suhery dan Wabup H Parulian Dalimunthe.

‎
‎Pasaman, desernews.com
‎‎Pasca dilantiknya Bupati Pasaman, Welly Suhery bersama Wakil Bupati, H. Parulian Dalimunthe, mulai berkembang isu ditengah kalangan aparatur sipil negara (ASN), khususnya mereka yang menduduki jabatan struktural, terkait kemungkinan adanya rotasi maupun pergantian jabatan.
‎
‎Isu tersebut menimbulkan kekhawatiran, seolah-olah akan terjadi perombakan besar-besaran terhadap pejabat yang dianggap sebagai “produk lama”.
‎
‎Jika dianalisa secara jernih, anggapan tersebut sesungguhnya keliru. Welly Suhery bukanlah sosok pemimpin yang berpikir sempit atau picik dalam mengambil keputusan.
‎
‎Ia dikenal sebagai figur yang tenang, rasional, dan bijaksana dalam menyikapi setiap persoalan, termasuk urusan birokrasi pemerintahan.
‎
‎Memang tidak bisa dipungkiri, pada saat pelaksanaan Pilkada yang lalu, berkembang dinamika politik di mana sebagian ASN menunjukkan loyalitas kepada bupati incumbent.
‎
‎Hal itu wajar terjadi karena pada masa tersebut mereka masih berada di bawah kendali kepemimpinan bupati sebelumnya. Selama tidak terlibat aktif dalam politik praktis, kondisi tersebut sejatinya tidak bisa dijadikan alasan untuk menilai kinerja atau integritas seorang ASN secara sepihak.
‎
‎Yang menjadi persoalan serius dan tidak dibenarkan adalah apabila seorang ASN terlibat langsung dalam politik praktis, melakukan kampanye, atau memanfaatkan jabatan untuk kepentingan politik tertentu.
‎
‎Tindakan seperti itulah yang melanggar aturan dan etika aparatur negara. Namun, dalam konteks demokrasi, setiap warga negara, termasuk ASN, tetap memiliki hak politik untuk menentukan pilihan secara pribadi, jujur, dan adil di bilik suara.
‎
‎Kekhawatiran yang mencuat ini juga dipengaruhi oleh pengalaman di sejumlah daerah lain, di mana setelah kepala daerah baru terpilih dan dilantik, terjadi “pemangkasan gerbong” pejabat lama dan digantikan oleh orang-orang dekat kepala daerah baru.
‎
‎Fenomena tersebut kemudian menjadi asumsi yang digeneralisasi, seolah-olah akan terjadi pula di Kabupaten Pasaman.
‎Namun, banyak pihak meyakini hal tersebut tidak akan terjadi dibawah kepemimpinan Welly Suhery.
‎
‎Pengalamannya sebagai mantan anggota DPRD Kabupaten Pasaman dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) telah menempa dirinya sebagai pemimpin yang memahami dinamika birokrasi dan memiliki jiwa besar serta lapang dada.
‎
‎Ia paham bahwa pembangunan daerah tidak bisa digerakkan dengan emosi atau balas jasa politik semata.
‎Dalam mengambil keputusan, Welly Suhery diyakini tidak akan bertindak secara tergesa-gesa.
‎
‎Ia akan terlebih dahulu menilai kinerja, dedikasi, dan loyalitas para pejabat yang ada. Selama seorang pejabat bekerja dengan baik, profesional, dan setia kepada pimpinan pemerintahan yang sah, maka tidak ada alasan untuk tidak mempertahankannya sebagai bagian dari tim kerja pembangunan.
‎
‎Bagaimanapun juga, tujuan utama kepemimpinan Welly Suhery dan H. Parulian Dalimunthe adalah mempercepat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat.
‎
‎Untuk mencapai hal tersebut, dibutuhkan aparatur yang berpengalaman, solid, dan mampu bekerja bersama, tanpa dibatasi oleh sekat-sekat politik masa lalu.
‎
‎Dengan pendekatan kepemimpinan yang bijaksana dan berorientasi pada kinerja, diharapkan kekhawatiran para PNS dapat mereda, dan seluruh elemen birokrasi dapat kembali fokus menjalankan tugas serta pengabdian terbaiknya bagi daerah dan masyarakat Pasaman.(H.Eddi Gultom)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close