Beragama di Era Algoritma Masa Depan Peradaban Dunia dan Tantangan Generasi Planetarian
Oleh: Prof. Dr. Kamaruzzaman. M.Sh Akademisi dan Praktisi Dakwah

Banda Aceh, desernews.com
Kita sedang menuju era “Kesadaran Buatan” (Artificial Consciousness), di mana teknologi tidak hanya berpikir, tapi juga mulai merespons secara emosional. Anak-anak yang lahir setelah tahun 2015 diprediksi akan menjadi generasi utama dalam peradaban baru ini. Mereka bukan sekadar digital native, tapi benar-benar “terhubung” secara pikiran dan perasaan dengan teknologi, melalui algoritma yang tertanam dalam gaya hidup mereka.
Fenomena ini bahkan memunculkan gejala “agama baru”, yaitu keyakinan dan makna hidup yang dibentuk melalui teknologi dan big data. Agama dikaitkan dengan jaringan, koneksi, dan integrasi digital.
Mari kita lihat fase-fase pergeseran manusia:
– Era Tradisional: Agama menjadi pusat kehidupan.
– Era Modern: Agama mulai ditinggalkan, dianggap kuno.
– Era Post-Modern: Kembali ke agama, tetapi dalam format yang disesuaikan, seperti sekolah berbasis IT, santri hafidz Qur’an dengan digitalisasi.
– Era Planetarian (Global-Connected Human): Imajinasi dan emosi anak-anak terlampiaskan melalui ruang maya, mereka membentuk identitasnya dalam dunia digital.
Namun, pola konflik mulai bergeser. Kini dunia memasuki transformasi dari apa yang disebut para pemikir sebagai fase “O” ke 1, lalu ke 2, dan menuju fase 3, sebuah metafora perubahan cara manusia berinteraksi dengan bumi (objek). Pada fase ketiga ini, manusia bahkan mulai menjajaki kemungkinan hidup di luar bumi, seperti di Mars. Ini bukan sekadar fantasi ilmiah, melainkan bagian dari visi jangka panjang berbagai negara dan perusahaan teknologi.
Sayangnya, banyak negara, termasuk negara-negara kaya, gagal membaca perubahan ini. Akibatnya, ketimpangan meningkat: negara kaya teknologinya, namun rakyatnya tetap miskin karena tidak disiapkan menghadapi lompatan zaman.
Artificial Intelligence (AI) hadir sebagai respon manusia dalam menyongsong fase baru peradaban. *Robotik Culture* mulai menggantikan fungsi-fungsi manusia, terutama di negara dengan populasi menurun seperti Jepang dan Dubai. Robot menggantikan pekerjaan manusia bukan karena sekadar efisiensi, tapi karena manusia semakin langka dan menua, dalam kata penutup. (T.Jamaluddin)




