Nasional

Teriakan Putri Candrawathi Awal Brigadir J Ditembak, Komnas HAM Tidak Tega Bharada E Jadi Tumbal

Kolase. Teriakan Putri Candrawathi Awal Brigadir J Ditembak, Komnas HAM Tidak Tega Bharada E Jadi Tumbal

Jakarta, desernews.com
Kasus penembakan Brigadir J oleh Bharada E diduga polisi karena dugaan pelecehan seksual kepada Putri Candrawathi istri Irjen Ferdy Sambo.

Teriakan Putri Candrawathi istri Ferdy Sambo juga diduga awal Bharada E menembak Brigadir J di rumah dinas sang Jendral.

Meski begitu, banyak fakta baru yang mencuat dalam kasus penembakan Bharada E kepada Brigadir J tersebut.

Dugaan yang terbantahkan adalah dugaan pelecehan seksual yang dilakukan Brigadir J kepada Putri Candrawathi.

Dikutip dari channel Youtube TV Rakyat, penembakan Brigadir J di rumah Irjen Ferdy Sambo diduga bukan karena pelecehan seksual.

Tapi Putri Candrawathi diduga berteriak karena melihat penembakan oleh beberapa ajudan.

Salah satu fakta lain adalah nyanyian dari Bharada Richard Eliezer atau Bharada E pasca ditetapkan sebagai tersangka.

Brimob asal Manado Bharada E mengaku jika dirinya hanya menjalankan perintah dari atasan.

Hal ini dikatakan oleh Bharada E melalui kuasa hukumnya Deolipa Yumara.

Yumara menegaskan jika kliennya Bharada E hanya menjalankan apa yang diperintahkan oleh atasan.

Namun, Deolipa Yumara masih enggan menyebutkan siapa sosok atasan tersebut yang memerintahkan Bharada E.

“Itu masih masuk ranah penyidikan,” ucap dia.

Deolipa Yumara pun menegaskan jika Bharada E tak bersalah dalam kasus ini.

“Klien saya (Bharada E) tak bersalah karena hanya menjalankan perintah,” tegas dia.

sementara itu, Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Ahmad Taufan Damanik tidak tega terhadap Bharada E yang menjadi tumbal dalam kasus pembunuhan Brigadir J.

“Saya tidak bisa, tidak tega, saya bilang, seorang Bharada E itu kemudian jadi tumbal dalam semua persoalan ini (pembunuhan Brigadir J),” katanya saat diwawancarai di Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis, 11 Agustus 2022. dikutip dari Pikiran Rakyat.

Taufan mengatakan Komnas HAM memberi perhatian kasus pembunuhan Brigadir J, termasuk mengenai CCTV yang disebut rusak dalam keterangan awal polisi.

Menurutnya, CCTV disebut rusak maka ada kesengajaan untuk menghalang-halangi tindakan penegakan hukum.

Tidak hanya itu, fair trial dalam kasus Brigadir J tidak akan tercapai.

Dikatakannya, bukan hanya mengendalkan keterangan saksi, kasus Brigadir J ini juga harus berdasarkan bukti.

“Kenapa? Karena ada langkah-langkah obstruction of justice, menghilangkan barang bukti, mengatur segala macam sehingga kemudian tidak terbuka apa sebetulnya yang terjadi, siapa melakukan apa, dimana, kapan,” ucapnya.

“Apa barang buktinya? Tuduhan harus bisa berdasarkan barang bukti,” ujarnya.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan tidak ada kasus baku tembak yang terjadi di rumah Ferdy Sambo pada tanggal 8 Juli 2022 lalu yang menewaskan Brigadir J.

Listyo mengatakan, Timsus menemukan bahwa Bharada Richard Eliezer menembak Brigadir Yosua atas perintah Irjen Ferdy Sambo.

Di samping itu, Ferdy Sambo juga diduga kuat melakukan tindakan penghilangan barang bukti dengan mengamankan CCTV di TKP.

Sebagai informasi, Bharada E mulai mengungkapkan fakta sebenarnya tentang kejadian penembakan terhadap Brigadir J.

Namun sayangnya, orang tua dari Bharada E yang tinggal di Kompleks perumahan Tamara Residence, sampai saat ini tak terlihat lagi batang hidungnya.

Rumah mereka bahkan sudah hampir dua bulan kosong.

Menurut para tetangga jika orang tua dari Bharada E sangatlah ramah.

“Mereka sangat ramah dan suka menegur,” ujar salah seorang tetangga berinisial L saat ditemui belum lama ini.

Ia membeberkan jika ayah dari Bharada E adalah seorang pelayan di Gereja.

Sedangkan ibunya adalah seorang pekerja sosial.

“Kedua orang tuanya sangat ramah. Mereka sangat baik pada kami,” ucapnya.

Dirinya juga yakin jika Bharada E hanyalah seorang tumbal dalam kasus ini.

“Saya yakin dia hanya tumbal. Karena Bharada E adalah anak yang sangat baik,” tegas dia.

Sebelumnya diketahui, Informasi bahwa Bharada E adalah lulus dari SMP Negeri 3 Manado, membuat sebagian guru merasa kaget.

Humas SMP Negeri 3 Manado yakni Selvi None mengatakan jika dirinya sama sekali tak tahu tentang informasi dari Bharada E.

Ia mengaku pernah mendengar nama dan marga tersebut tapi lupa lulusan tahun berapa.

“Namanya tak asing, tapi saya lupa dia lulusan tahun berapa,” ujarnya.

Selvi mengatakan jika dirinya sudah mendengar kabar yang menimpa Bharada E di televisi.

Namun ia baru tahu jika ada informasi Tenga Bharada E adalah lulusan dari SMPN 3 Manado.

“Buku register sekolah kami banyak yang rusak. Jadi tak ada nama Bharada E disana,” kata dia.

Selain itu, ia mengaku jika banyak marga yang sama dengan Bharada E tinggal di lingkungan rumahnya.

“Tapi saya tak tahu apakah itu masih saudaranya atau bukan,” tegasnya.(tg/DN)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close