Aceh Darussalam

Belajar dari Proses Pemilihan Utsman Bin Affan

Pengajian Rutin Ahad di Masjid Taqwa Muhammadiyah Aceh, oleh: Ust. Prof. Dr. H. Alyasa' Abubakar, MA, dengan tema: Ketika Kekuasaan Tidak Diperebutkan

Ustazd Prof. Dr.H. Alyasa’ Abubakar, MA

Banda Aceh, desernews.com
Kita melihat sebuah peristiwa sejarah yang sangat penting dalam perjalanan umat Islam. Bukan sekadar tentang siapa yang menjadi khalifah, tetapi tentang bagaimana orang-orang terbaik dalam generasi terbaik menyelesaikan persoalan kekuasaan.

Peristiwa itu adalah proses terpilihnya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu sebagai khalifah ketiga setelah Rasulullah SAW. Hal itu disampaikan oleh Ustazd Prof. Dr. H. Alyasa’ Abubakar, MA, dalam ceramahnya di Mesjid Taqwa Muhammadiyah Banda Aceh, Ahad 4 Oktober 2026.

Ada satu pertanyaan yang menarik, bagaimana para sahabat menentukan siapa yang akan memimpin umat setelah Umar bin Khattab?
Apakah terjadi perebutan?
Apakah ada kampanye?
Apakah ada saling menjatuhkan?
Apakah ada orang yang mengatakan,
“Saya paling pantas menjadi pemimpin!”

Ternyata tidak.
Justru di sinilah kita menemukan sebuah pelajaran kepemimpinan yang luar biasa.

Umar tidak menunjuk anaknya
Ketika Umar bin Khattab r.a. terluka parah akibat ditikam, para sahabat meminta beliau menunjuk pengganti.
Tetapi Umar tidak menunjuk anaknya.
Tidak menunjuk keluarganya. Tidak pula menunjuk satu orang secara sepihak.

Umar membentuk sebuah majelis syura yang terdiri dari enam sahabat utama:

1. Ali bin Abi Thalib,

2. Utsman bin Affan,

3. Abdurrahman bin Auf,

4. Sa’ad bin Abi Waqqash,

5. Zubair bin Awwam, dan

6. Thalhah bin Ubaidillah.

Perhatikan baik-baik, Umar sedang menyerahkan persoalan kepemimpinan kepada proses musyawarah. Ini memberikan pesan, jabatan adalah amanah, bukan warisan.

Kemudian terjadi sesuatu yang sangat menarik, dari enam orang itu, ternyata tidak semuanya ingin menjadi khalifah.

Zubair menyerahkan haknya kepada Ali.
Thalhah menyerahkan haknya kepada Utsman. Sa’ad menyerahkan haknya kepada Abdurrahman bin Auf. Akhirnya perhatian mengerucut kepada dua nama, yaitu: Ali bin Abi Thalib dan Utsman bin Affan.

Namun Abdurrahman bin Auf tidak mengambil kesempatan itu untuk dirinya sendiri. Ia berkata, kurang lebih:
“Saya tidak akan bersaing dengan kalian dalam perkara ini. Tetapi jika kalian menghendaki, saya akan memilihkan untuk kalian.”

Bayangkan! Orang yang sebenarnya mempunyai peluang untuk menjadi pemimpin justru menyingkir dari perebutan jabatan agar dapat menjaga kepentingan umat.

Inilah salah satu penyakit kepemimpinan yang sering terjadi,orang terlalu sibuk mengejar jabatan sampai lupa bahwa jabatan itu sebenarnya beban.

Abdurrahman bin Auf tidak asal memilih
Apakah setelah itu Abdurrahman bin Auf langsung berkata: “Saya pilih Utsman.”

Tidak.
Ia melakukan konsultasi.
Ia bertemu dengan para sahabat.
Ia berbicara dengan Muhajirin.
Ia berbicara dengan Ansar.
Ia mendengar pendapat masyarakat.
Bahkan diriwayatkan bahwa selama beberapa malam ia hampir tidak tidur karena memikirkan persoalan tersebut.

Mengapa?
Karena ia sadar: yang sedang dipilih bukan ketua organisasi.
Yang sedang dipilih adalah orang yang akan memikul amanah umat.

Kemudian terjadi dialog yang sangat penting, Abdurrahman bin Auf menemui Ali bin Abi Thalib. Ia bertanya kepada Ali:b”Jika engkau menjadi khalifah, apakah engkau akan berpegang kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya?”

Ali menjawab bahwa ia akan berpegang kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah, serta menggunakan ijtihadnya dalam perkara yang tidak ditemukan ketentuannya. Kemudian pertanyaan yang sama diajukan kepada Utsman. Utsman menyatakan kesediaannya untuk berpegang kepada: Kitab Allah, Sunnah Rasulullah, serta jalan Abu Bakar dan Umar.

Disinilah kita belajar sesuatu yang sangat penting. Dalam memilih pemimpin, yang ditanyakan bukan hanya: “Siapa yang paling terkenal?”
Bukan Siapa yang paling banyak pendukungnya?” Tetapi dengan prinsip apa engkau akan memimpin?” Karena seorang pemimpin boleh berganti, tetapi prinsip tidak boleh berganti.

Sampai akhirnya keputusan dibuat
Setelah melakukan konsultasi, Abdurrahman bin Auf mengambil keputusan. Ia menyatakan bahwa dari apa yang ia dengar dari masyarakat, Utsman memiliki dukungan yang sangat kuat.

Kemudian ia menawarkan baiat kepada Utsman.
Dan apa yang dilakukan Ali?
Apakah Ali marah?
Apakah Ali mengatakan:
“Saya lebih senior!”
Apakah Ali mengatakan:
“Saya keluarga Rasulullah!”
Tidak.
Ali memberikan baiat kepada Utsman.
Kemudian para sahabat yang lain mengikuti.
Maka Utsman bin Affan r.a. menjadi khalifah ketiga.

inilah kebesaran generasi sahabat.
Mereka boleh berbeda pilihan.
Tetapi setelah keputusan dibuat, mereka tidak menghancurkan umat hanya karena pilihan mereka tidak menang.

Maka kepemimpinan dalam Islam bukan tentang siapa yang paling ingin berkuasa. Justru orang yang paling layak memimpin sering kali adalah orang yang paling takut terhadap amanah kepemimpinan.

Karena ia memahami firman Allah:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.”  (QS. An-Nisa: 58)

Jabatan bukan kehormatan semata.
Jabatan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Dari kisah Utsman bin Affan ini kita dapat mengambil setidaknya empat pelajaran:

Pertama, jangan menjadikan jabatan sebagai tujuan.

Kalau jabatan menjadi tujuan, orang akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Tetapi kalau amanah yang menjadi tujuan, seseorang akan bertanya: Apakah saya mampu mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah?

Kedua, keputusan besar harus lahir dari musyawarah.

Abdurrahman bin Auf tidak memutuskan hanya berdasarkan perasaannya. Ia mendengar. Ia bertanya. Ia mempertimbangkan.
Ia bermusyawarah.

Ketiga, perbedaan pilihan tidak boleh menghancurkan persaudaraan.

Ali tidak terpilih. Tetapi Ali tidak menjadi musuh Utsman. Ia memberikan baiat. Dan Utsman bukan sekadar “pemenang”. Ia adalah saudara seiman yang kemudian memikul amanah umat.

Keempat, setelah keputusan diambil, persatuan harus dijaga.

Inilah kedewasaan politik para sahabat.
Mereka memahami bahwa: Kepentingan umat lebih besar daripada kepentingan pribadi.

Mungkin inilah pertanyaan terbesar yang harus kita bawa pulang: Kalau kita berada di posisi para sahabat ketika itu, apakah kita mampu bersikap seperti mereka?, Apakah kita mampu menerima keputusan ketika bukan kita yang terpilih?, Apakah kita mampu memberikan dukungan kepada orang lain ketika pilihan kita tidak menjadi keputusan?

Dan yang lebih penting, apakah kita mengejar jabatan karena ingin melayani, atau karena ingin berkuasa?
Karena sejarah para sahabat mengajarkan kepada kita: Pemimpin sejati bukanlah orang yang paling keras mengejar kursi kepemimpinan, tetapi orang yang paling siap memikul amanah ketika umat mempercayainya.

Semoga Allah memberikan kepada kita pemimpin-pemimpin yang amanah.
Dan semoga Allah juga memberikan kepada kita masyarakat yang dewasa dalam bermusyawarah, lapang dalam menerima perbedaan, dan kuat menjaga persatuan.

Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.( T. Jamaluddin)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close